Senin, 02 Maret 2009

Perawan, oh Perawan

 

Virginitas Remaja 

Ngomongin virginitas remaja, bukan hanya dominasi kaum cewek. Kaum cowok juga kudu turut ambil bagian dalam masalah ini. Karena makna virgin bukan hanya ‘kegadisan’ saja, tapi juga mencakup ‘keperjakaan’.

Virginitas sangat dekat hubungannya dengan melakukan hubungan seks. Menjaga virginitas berarti menjaga hubungan pergaulan dengan lawan jenis agar nggak kebablasan. Virgin nggaknya seseorang bukan hanya pada kondisi selaput dara saja, tapi sudah pada perilaku seksual dia yang menjurus.
Wah…kayaknya hot banget neh bahasan kita kali ini. Baca terus sampai tuntas, yuukkkk!

Virginitas, bukan tentang selaput ‘gadis’
Virginitas bukan melulu pada utuh tidaknya selaput dara yang menunjukkan kegadisan seorang cewek. Tapi virginitas adalah kondisi mental dan akhlak seseorang dalam perilaku seksualnya. Jadi pihak cowok pun juga bisa dikatakan nggak virgin kalo ia sudah mulai berani melakukan seks bebas sebelum nikah.

Ada banyak kasus selaput dara robek karena aktivitas olahraga atau naik sepeda. Ada juga kasus gonta-ganti pasangan atau pacar tapi selaput dara masih utuh. Nah, di antara dua kasus itu manakah yang masih virgin dan suci?

Jelas yang pertama dong. Meskipun selaput dara sudah robek, tapi kasus pertama menunjukkan kesucian seorang gadis. Tentu saja dengan catatan selama dia bukan pengikut aliran gaul bebas loh yah. Sedangkan kasus kedua, biar kata dia kemana-mana membual suci hanya karena selaput dara utuh, itu juga masih sangat bisa dipertanyakan. Selama dia beraktivitas mendekati zina alias penggiat pacaran, maka kesucian dia hanya sebatas lip service semata. Omong kosong, Non!

Begitu juga dengan halnya para cowok. Jangan karena kamu nggak punya selaput dara, bisa seenaknya saja main seruduk sana-sini tanpa aturan. Emangnya kamu ayam? Meskipun banyak orang bilang bahwa resiko cowok cenderung nggak ada karena nggak meninggalkan bekas semisal hamil kayak kasus pada cewek, tapi ingatlah bahwa dosa yang kamu tanggung juga sama besarnya. Jadi mending kamu berpikir ribuan kali sebelum melakukan tindakan bodoh dengan melakukan seks sebelum nikah. Iya nggak sih?

Jadi bagi kamu kaum cowok, kudu juga tetap harus mempertahankan ‘virginitas’ hingga nanti saatnya tiba. Kapan tuh? Yaitu kalo kalian sudah berani mengucapkan akad nikah di depan ortu/wali calon istrimu yang disaksikan banyak orang dan dicatat sama pak penghulu. Okay dong yah?              

Virgin ternoda, salah siapa?
Jawabannya adalah salah semua. Lho, kok? Rentannya virginitas pada remaja saat ini, nggak peduli cewek ataukah cowok, bukan melulu urusan individu yang lemah iman. Masyarakat yang lepas kontrol dan individualis juga menjadi pemicu maraknya seks bebas di kalangan remaja. Sebagai contoh adalah seorang pemilik kost-an yang cenderung permisif (serba boleh) tentang aturan berkunjung tamu putra ke kost putri. Mereka bisa pura-pura tidak tahu bila mendapati hal tersebut di depan mata, hanya karena supaya tempat kost-nya laku. Begitu juga dengan minimnya kepedulian dari masyarakat sekitar. Alih-alih menegur apalagi menggerebek pelaku zina, mereka hanya ambil jalan pintas ‘yang penting nggak mengganggu aku aja’.

Jadilah remaja yang dasarnya lemah iman ini semakin bebas aja mau melakukan hal-hal yang amoral. Mereka merasa mendapat pembenaran dari sekitar. Apalagi dari pihak berwenang dalam hal ini kontrol negara, juga sangat lemah. Selama tak ada pasal pengaduan sikap seseorang melanggar atau mengganggu orang lain, maka pezina tak bisa dijerat undang-undang yang notabene memang mengadopsi dari hukum pidana Belanda. Selama masing-masing pezina melakukannya suka sama suka, tak ada hukum positif di negeri ini yang bisa menjerat perilaku asusila mereka.

Apalagi akhir-akhir ini pelaku aktif gaul bebas semakin giat saja menolak RUU pornografi dan pornoaksi. Mereka berdalih dengan mengatasnamakan pengekangan terhadap kebebasan berekspresi. Belum lagi di pihak lain, mereka juga gencar membagikan kondom gratis bagi para pemuda. Kondisi ini diperparah dengan tayangan tivi dan sinetron yang semuanya nyaris mengumbar aurat dan membangkitkan syahwat para pemirsanya. Bahkan beberapa tahun lalu film Virgin pun dibuat dengan alasan untuk mengingatkan remaja tentang bahaya gaul bebas. Tapi bukannya malah ingat, tuh film malah mengumbar aurat dan membikin remaja mupeng (muka pengen) untuk coba-coba. Waduh…lengkap sudah upaya penodaan terhadap kaum muda ini.

Islam juga ngomongin virginitas
Islam sangat menjaga kesucian diri baik cewek maupun cowok. Islam sebagai pandangan hidup yang paripurna dan lengkap, telah memunyai aturan hingga hal terkecil sekalipun. Islam mempunyai langkah-langkah yang bukan hanya curative (penyembuh) tapi juga preventif (pencegah). Maksudnya, sebelum terjadi kerusakan masyarakat karena seks bebas dan hilangnya virgintas pada remaja, ada langkah-langkah pencegahan yang harus ditempuh.
Pertama, ada aturan yang lengkap dan detil tentang gaya berpakaian baik cewek maupun cowok. Batas-batas aurat mana yang dipatuhi untuk tidak dipamerkan semaunya sendiri. Bagi cewek ada kerudung dan jilbab yang harus dikenakan bila keluar rumah. Untuk cowok pun, hati-hati dengan sesuatu yang ada di atas lutut dan di bawah pusar. Karena itulah area batas aurat cowok. ada perintah menundukkan pandangan dari melihat hal-hal yang bukan menjadi haknya.

Kedua, aturan pergaulan laki-laki dan perempuan yang sempurna. Larangan berduaan bagi laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom karena pihak ketiga pastilah setan. Tahu sendirilah apa kerjaan setan yang bakal ngomporin kedua orang beda jenis ini untuk melakukan hal-hal terlarang. Rasulullah saw. Bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (HR Ahmad)

Ketiga, peran serta masyarakat harus ada. Menegur, menasehati, dan peduli harus ditingkatkan ketika terjadi gejala perilaku seseorang menuju ke arah gaul bebas. Yang namanya tetangga apalagi pak RT dan pak RW harus tegas memberi teguran, peringatan hingga sanksi untuk perilaku yang kebablasan.
Keempat, peran negara sangat vital dalam hal ini. Selain sebagai pihak yang mengelurkan aturan bekekuatan hukum, negaralah yang berhak memberi sanksi secara hukum pula bila ada pelanggaran.
Negara harus mensosialisaskan aturan-aturan ini agar diketahui dan dipahami masyarakat. Bila sudah begini, orang-orang akan berpikir ribuan kali untuk melakukan tindakan amoral bila saja saksinya tegas. Cambuk 100 kali bagi yang pezina yang belum pernah menikah dan rajam bagi pezina yang sudah menikah. Bukan gertak sambal, tapi harus serius dilaksanakan. Bisa dijamin, angka gaul bebas yang notabene mengarah ke seks bebas langsung turun drastis.

dalil sanksi bagi pezina ghairu muhshan adalah ayat tentang jilid (hukuman cambuk), yakni firman Allah swt.:

Pezina laki dan perempuan jilidlah masing-masing keduanya dengan seratus kali jilid” (QS an-Nûr [24]: 2)

Oya, untuk hukuman rajam adalah berdasarkan riwayat dari ‘Abdullâh bin Buraidah dari bapaknya berkata, “Telah datang kepada Rasulullah saw., al-Ghamidiyyah dan ia berkata, “Ya Rasulullah saw., aku telah berzina, sucikanlah aku!” Beliau saw. menolaknya.

Besoknya ia berkata, “Wahai Rasulullah jangan engkau menolak aku, semoga  engkau merehabilitasi aku sebagaimana engkau merehabilitasi al-Mâ’iz. Demi Allah saya telah hamil. Rasulullah saw. bersabda, “Jangan, pulanglah sampai engkau melahirkan.”

Ketika ia telah melahirkan ia mendatangi Rasulullah saw. dengan anaknya yang ada di gendongan, dan ia berkata, “Ini adalah anakku.” Rasulullah saw bersabda,”Pergi, dan susuilah sampai engkau menyapihnya!” Ketika ia telah menyapihnya ia mendatangi Rasulullah saw. dengan anaknya  yang membawa sepotong roti. “Ya Nabiyullah, saya telah menyapihnya, dan ia sudah bisa memakan makanan. Lalu, anak itu diberikan kepada salah seorang laki-laki dari kaum Muslim. Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan menanam wanita itu hingga dadanya, kemudian memerintahkan manusia untuk merajamnya.” 

Hadis ini dengan jelas menunjukkan bahwa wanita hamil ditunggu sampai ia melahirkan, dan wanita yang menyusui ditunggu hingga ia menyapih anaknya.

Ati-ati en waspada
Jangan main-main masalah virginitas ini, apalagi berniat untuk coba-coba. Karena mirip dengan narkoba, awalnya coba-coba selanjutnya bisa kecanduan. Bagi para cewek, kehilangan virginitas sangat kuat dugaan menjadi pintu awal baginya untuk terjerumus ke arah jalan nggak bener selanjutnya. Banyak kasus menunjukkan bahwa cewek yang udah terlanjur kehilangan virginitas, akhirnya memilih masuk menjadi pelacur dengan anggapan hidupnya telah hancur dan nggak berguna lagi.

Bagi cowok juga nggak jauh beda. Awalnya yang berniat coba-coba bisa membuatnya menjadi ketagihan dan nggak lagi takut dosa. Apalagi mereka ini cenderung nggak punya beban sosial karena nggak ada selaput keperjakaan yang bisa membuktikan kesucian mereka or nggak. Plus, pihak cowok juga nggak nanggung kehamilan akibat gaul bebas. Bahkan tak jarang banyak cowok yang akhirnya memilih jadi gigolo (pelacur laki-laki) demi uang dan kenikmatan sesaat. Naudzubillah.

So, mulai saat ini, detik ini, kamu kudu nyadar bahwa masalah virginitas baik bagi cewek maupun cowok sama pentingnya. Sudah nggak zamannya lagi cewek menuding cowok sebagai pihak yang disalahkan. Begitu juga cowok menuding cewek sebagai pihak yang keganjenan. Semua kudu kembali melihat diri masing-masing, menjaga iman diri agar tidak tergoda untuk coba-coba gaul bebas yang itu bisa berakibat hilangnya virginitas. Bila benteng diri berupa keimanan sudah oke, maka saatnya kamu melihat sekitar. Ajak teman-temanmu untuk peduli virginitas dan mempertahankannya hingga menikah kelak. Gimana caranya?

Begini Bro ena Sis, di usia kamu yang masih remaja dan sangat muda ini, jauhkan hal-hal yang bisa mengakibatkan nafsu syahwat muncul. Buang jauh-jauh majalah porno, hindari tontonan yang memancing syahwat, tolak pacaran yang jelas-jelas langkah awal setan untuk menjerumuskan kamu pada perzinaan dan nggak usah coba-coba untuk ikhtilat--yaitu bercampur baur antara cewek dengan cowok kecuali dalam tiga hal; pendidikan, kesehatan, dan perdagangan.

Lakukan aktivitas positif yang bisa meraup pahala semisal rajin belajar dan gabung dengan kelompok ilmiah remaja, olahraga yang tidak bertentangan dengan syariat, aktif di kegiatan rohis (kerohanian Islam), dan berkumpul dengan teman-teman yang sholih bagi cowok dan sholihah bagi cewek. Yang nggak boleh dilupa, pertebal keimanan kamu dengan selalu taat ajaran Islam, dan yakini bahwa Allah Maha Melihat di mana pun kamu berada. So, hal ini bakal bikin kamu malu dan malas untuk berbuat maksiat.

Finally…
Virginitas selain bukan melulu tentang selaput dara yang menunjukkan masih perawan tidaknya seorang gadis, ia bisa menjadi tolok ukur keimanan dan akhlak perilaku seseorang. Seseorang ini bisa cewek dan bisa juga cowok. Meskipun pada seorang cowok sulit dideteksi apakah ia masih virgin ataukah nggak, tapi sesungguhnya jawaban itu bisa ditemui di dalam kejujuran hati masing-masing individu. Most of all, ada Allah yang Mahatahu tentang virgin tidaknya seseorang, suci ataukah ternoda.

Musuh-musuh Islam selalu mencari celah dan berupaya untuk menjerumuskan remaja dan pemuda-pemudi muslim agar berlumur dosa. Celah ini adalah siasat untuk merusak Islam secara keseluruhan sebagai tujuan akhir. Generasi muda adalah lahan empuk yang digunakan sebagai sasarannya. Gimana nggak kalo di usia kamu ini, perkembangan hormon seksual emang mulai berkembang dan daya ingin tahu pun mulai meledak-ledak. Kalo nggak dibentengi dengan iman yang kuat, pastilah korban dari para pemuda akan berjatuhan. 

Jangan tinggal diam, remaja muslim kudu diselamatkan dari gaul bebas yang bisa mengakibatkan hilang dan murahnya harga virginitas. Itu semua bakal berat dilakukan selama paham kebebasan berperilaku yang menjadi salah satu sendi demokrasi terus dipertahankan. Nah, demokrasi ini ditopang oleh kapitalisme yang emang materi menjadi tujuan. Bagi mereka yang pikirannya dijejali ide kapitalisme, nggak masalah remaja rusak yang penting uang bisa dihasilkan dari sana. Apalagi bila itu dianggap sebagai penghasil devisa negara, maka tempat maksiat pun dilestarikan bahkan kalo bisa diperbanyak.
Hiii…pantas aja negeri ini nggak pernah putus dirundung malang dari satu musibah ke musibah yang lain. Soalnya, Tuhan emang pantas murka melihat tingkah manusia dan negara model kayak gini. Dan ternyata emang pangkal dari semua kerusakan ini terutama betapa murah harga virginitas remaja itu berpangkal dari sistem pergaulan, sosial, kemasyarakatan dan bahkan hukum kita itu mengacu pada selain Islam.

So, nggak ada jalan lain bila kita ingin menyelamatkan generasi muda dari kerusakan yang makin parah kecuali kembali pada aturan yang berasal dariNya. Dan aturan ini nggak akan mungkin sempurna dilaksanakan kecuali oleh sebuah sistem tertentu bernama Daulah Khilafah Islamiyah. Sistem ini nggak akan tegak kalo nggak ada pemuda muslim yang berusaha untuk memperjuangkannya. Jadi, nggak ada pilihan lain kalo pingin mulia di dunia dan akhirat kecuali kita semua, saya dan kamu, turut ambil bagian dalam perjuangan ini.

Jadi, ayo kita sepakat untuk mempertahankan virginitas sampai merit kelak dan mencampakkan ide gaul bebas ke tong sampah peradaban. Akur? Seeeppp dah! 

Gayamu, itulah Kamu.

Gayamu, Identitasmu  

Kamu termasuk yang doyan dandan? Bagus atuh, asal dandanannya yang bener. Maksudnya yang menutup aurat gitu lho. Kalo sampe anak cewek berpakaian yang justru malah memperlihatkan bagian “DAJAL” alias dada dan bujal (baca: udel) itu udah keterlaluan banget. Apalagi setiap jengkal dari auratnya sangat mudah ditelusuri mata-mata cowok nggak tahu diri dan nggak tahu syariat. Lho, emangnya nggak boleh ya berpakaian seperti itu? Boleh, asal kamu pakenya di dalam kamar kamu sendirian. Jangan dipamerin di muka umum, Non.

Berpakaian itu adalah bagian dari gaya dan identitas lho. Nggak percaya? Suku Asmat di Papua sana, mereka yang masih mengenakan koteka dan setia dengan pakaian adatnya, sebenarnya ia sudah mengkomunikasikan kepada siapa pun bahwa mereka punya gaya sendiri dan tentunya identitas khas mereka. Punya nilai dan punya pendapat sendiri.

Bagaimana dengan yang ditindik or pearcing? Nah, memang dibilangnya itu gaya, life style, dan tentunya emang jadi identitas dong. Selain pengen nunjukkin kalo dirinya anak gaul, juga biar bisa gabung dengan komunitas yang begituan juga. Jadinya, ya memang sengaja bikin identitas diri. Persis jaman dulu, di tahun 60-an ada gaya hippies, terkenal banget. Bukan hanya terkenal karena gerakan protesnya menentang norma-norma seksual yang puritan, etika protestan, gerakan-gerakan mahasiswa menentang perang, anti senjata nuklir, anti masyarakat yang fasis, militeris, nggak manusiawi en nggak natural, tapi juga mendunia alias masyhur dengan simbol-simbol yang dikenakannya. Kalung manik-manik, celana jins, kaftan—jubah longgar sepanjang betis—yang pada awalnya merupakan pakaian tradisional Turki, sandal, mantel, dan jaket yang dijahit dan disulam sendiri, untuk membedakan mereka dengan golongan orang-orang yang memakai stelan resmi dan berdasi.

Kaftan banyak digunakan sebagai pakaian khas orang-orang hippies karena jenis pakaian ini biasanya berharga murah, sehingga nggak berkesan borjuis, dan membebaskan pemakainya dari kungkungan kerah, kancing en ikat pinggang yang ketat. Oya, simbol yang paling mencolok adalah rambut mereka yang panjang dan lurus. Rambut-rambut yang natural, tanpa cat, tanpa alat pengeriting, tanpa dihiasi dengan pernik-pernik apapun, tanpa wig. Kaum laki-laki hippies juga memelihara rambut panjang, lengkap dengan janggut dan kumis yang dibiarkan tumbuh lebat tanpa dipotong. Ini yang membedakan mereka dari golongan orang tua mereka. Sepuluh tahun kemudian gaya hippies yang pada awalnya tumbuh untuk menentang kemapanan ini mendapat serangan dari golongan The Skinheads (kepala plontos).

Kalo anak masjid gimana? Ya, sama aja. Gayanya pasti beda dong dengan anak nongkrong, meski nongkrong dalam arti sesungguhnya pasti banyak yang melakukannya pada pagi hari di ruangan sempit bernama WC (eh, jangan jorse ya, tulis aja dengan bahasa kiasan, lagi nge-download, gitu! Hehehe.. emangnya ngunduh file di internet!).

Yoi man, anak masjid ama anak yang suka ngongkrong di pinggir jalan pasti beda gaya. Wong tempat mangkalnya aja beda. Anak nongkrong yang berduit bisa ngumpul di café atawa diskotik sekalian dugem. Kalo bokek ya di pinggir jalan sambil nyanyi-nyanyi nggak karuan. So, beda banget gayanya dan pasti identitas yang ingin ditunjukkin ke orang-orang juga beda tujuannya. Iya nggak sih?

Jangan mau dijajah gaya hidup ngawur
Kenapa sih sebagian dari kita merasa senang dan bangga kalo masuk komunitas anak gaul? Yup, karena pencitraan terhadap anak gaul saat ini adalah anak yang ngerti dan bisa ngikutin perkembangan jaman. Lebih gawat lagi kalo kemudian jadi gaya hidup dan identitas dirinya. Namanya juga gaya hidup, berarti bagian dari aturan hidupnya. Misalnya aja berpakaian, mereka milih dong pakaian yang cocok sebagai anak gaul. Nggak mungkin anak gaul pake sarungan ama peci. Bukan cuma takut dianggap anak santri tapi khawatir diledekin “belum kering” karena abis sunat atau disangka mo ngeronda.

Sebenarnya kamu bisa tersiksa lho dengan gaya dan identitas kamu yang kayak gitu. Mending kalo benar dan baik, lha kalo salah dan ngawur? Emang sih setiap orang ingin punya citra diri agar bisa diterima di level sosial tertentu. Ya, citra merupakan bagian yang nggak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat modern. Citra udah jadi menu harian bagi masyarakat yang kenal peradaban.

Kamu yang tinggal di perkotaan (bahasa kerennya urban), citra merupakan media komunikasi atas suatu kelas sosial. Kamu pengen nampilin dirimu seperti yang kamu inginkan di hadapan publik. Nah, citra ini emang akan membentuk penggunanya untuk tetap berada dalam kelompok sosialnya. Itulah mengapa anak masjid ya gaulnya ama anak masjid, anak jalanan juga cocok gabung ama anak jalanan lagi. Ada kesamaan pikir dan rasa. Pokoknya, citra juga bisa digunain untuk mempertahankan eksistensi dan menyampaikan sebuah pengakuan atas identitas diri. Seperti yang di sampaikan Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1959), “kehidupan sosial terutama terdiri dari penampilan teatrikal yang diritualkan, yang kemudian dikenal sebagai pendekatan dramatugi “(dramtugical approach).

Citra dan penampilan diri seolah menjadi suatu keharusan bagi semua manusia yang ingin dianggap modern, classy, gaul dan metropolis. Atau yang disebut Mike Featherstone dengan “estetisasi kehidupan sehari-hari”(Consumer Culture and Postmodern; 1991).

Intinya nih, jangan mau dijajah oleh gaya hidup yang nggak benar dan nggak baik, apalagi gaya hidup yang ngawur. Misalnya, dalam komunitasmu doyan seks bebas, konsumsi narkoba, harus pake baju tertntu yang ngumbar aurat, pake seragam kayak gini, dan itu sebuah keharusan yang nggak bisa ditawar lagi. Itu namanya kamu dijajah oleh gaya hidup ngawur. Jangan mau terus begitu deh.

Be your self
Kamu pernah nonton film Face Off yang dibintangi John Travolta dan Nicolas Cage? Wah, punya wajah yang ketukar rasanya risih juga ya? Detektif Sean Archer yang diperankan John Travolta melalui operasi plastik saat kecelakaan ditukar dengan wajah milik Castro Troy (Nicolas Cage)—bajingan yang membunuh anaknya. Problem baru muncul, Sean dengan wajah Castro dipenjara, sementara Castro dengan wajah Sean berkeliaran dan berusaha membunuhnya. Wuih, bayangkan, punya wajah orang lain, padahal jasadnya adalah jasad kita. Pikiran dan  perasaannya juga punya kita. Berabe banget kan?

Kira-kira kalo boleh ngambil ‘hikmah’ dari film tersebut, kita bisa tahu, meski berlindung di balik wajah orang lain, tapi kita adalah diri kita. Makanya tepat, unsur pembentuk kepribadian adalah akal dan jiwa kita bukan wajah or assesoris lainnya. Kamu akan tetap menjadi dirimu, meski kamu berusaha menutupi kelemahan kamu dengan kedok wajah atau perilaku orang lain. Dengan maksud kamu tak dikenali identitas aslinya, karena mendompleng ketenaran orang lain. Lalu kamu puas dan bisa ikutan tenar. Padahal sejatinya, kamu tetap kamu, bukan siapa-siapa.

Hal lain yang sering membuat teman-teman remaja termakan budaya yang nggak benar adalah karena merasa bahwa hal itu ibarat pilihan antara hidup atau mati. Merasa bahwa bila nggak tampil gaya, identitasnya bakal bermasalah di mata teman-teman kamu. Ujung-ujungnya kamu takut nggak diterima dalam kelompok kamu.

Kamu bisa saksikan ada anak-anak muda yang merasa perlu menetapkan ciri-ciri kelompok mereka. Misalnya saja dari sisi jenis musik yang digandrungi. Mereka akan membentuk gank yang ciri-cirinya mirip gaya pemusik atau kelompok musik pujaannya. Misalnya saja, setiap anak yang mau gabung dengan gank yang maniak musik metal atau heavy metal, harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: tampang harus Romusa alias Roman Muka Sadis atau Primus (Pria Muka Setan), badan dipenuhi tatto yang serem-serem—misalnya gambar tengkorak (tapi bukan tengkorak ikan, lho), terus rambutnya gondrong lurus (soalnya kalo kriting or galing itu cocok untuk jenis musik dangdut!), selain itu mungkin juga ‘diwajibkan’ mengamalkan ‘jampi-jampi’ seperti ini: “Aku berlindung kepada metal, dari godaan dangdut yang terkutuk!” Gubrak! (sambil megangin jidat yang benjut)

Wah, berabe juga ternyata, ya? Iya lah. Apalagi identitas yang dibangun ternyata berlandaskan gaya hidup peradaban lain—selain Islam. Kalo remaja Islam banyak yang tampil bukan dengan identitas Islam, alamat kebangkitan Islam masih jauh panggang dari api. Iya, dong, gimana bisa bangkit, lha wong kaum musliminnya aja ogah bergaya hidup islami. Sedih banget Bro. Suer, identitas sebagai seorang muslim lenyap dan berganti dengan identitas dari ideologi/agama lain. Rekan remaja yang seperti itu kan berarti pikiran dan jiwanya nggak dipoles dengan ajaran Islam. Jelas dong. Kalo udah islami, mana mungkin mau berbuat begitu. Iya nggak?

Identitas diri? Cukup Islam saja ya
Soal gaya dan identitas remaja ini memang awalnya adalah persoalan mubah. Dalam artian bahwa bergaya itu sendiri dibolehkan. Tapi masalahnya adalah, gaya remaja sekarang udah banyak yang mengarah kepada identitas suatu kaum atau peradaban tertentu yang memang bukan berasal dari ajaran Islam. Bagi teman-teman remaja nggak usahlah ngikutin gaya yang merupakan identitas kepribadian peradaban selain Islam. Jangan ikut-ikutan yang nggak bener deh. Rasulullah saw. bersabda:

“Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR Bukhari Muslim)

Waduh ngeri juga ya? Lha iya, bagi seorang muslim terlarang baginya mengikuti budaya atau gaya hidup kaum lain. Bisa berbahaya. Bahkan seharusnya bangga menjadi seorang muslim yang memiliki identitas islami. Oya, identitas islami yang hakiki adalah pikiran dan perasaannya dibalut dengan ajaran Islam. Insya Allah itu akan menyelamatkan kamu, dan tentu saja itulah identitas Islam kamu yang sebenarnya. Ok? So, bangga jadi muslim ye! 

Jumat, 27 Februari 2009

Aby, I Love You !

Bi... Aku Mencintaimu...
Oleh: Abu Ayyesha   

 "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)

Kuterima lagi hadiah doa dari Aby. Walau ia memiliki kekurangan, tetapi kelebihannya jauh lebih banyak. Dia setia, ganteng, cerdas, bertanggung jawab, berjiwa pemimpin, jago diplomasi              ( merayu, maksudnya ) berkarisma, dll. Hmm, engkau memang tepat menjadi misuaku.

Telah kujadikan engkau dalam daftar Da'wah Fardiyahku, agar menjadi seorang ikhwah. Ikhwah yang akan turut mengokohkan barisan da'wah. Akhlak dasarmu sudah baik, tinggal sedikit dipoles, maka Insya Allah engkau akan menjadi jauh lebih ganteng dengan keikhwahanmu ^ _ ^. Amiin. Bangsa Arab dulu juga seperti itu kan Bi, mereka memiliki akhlak-akhlak dasar yang baik; pemurah, menghormati tamu, setia pada kabilahnya, pemberani, dan lain-lain. Hanya saja akhlak-akhlak baik Bangsa Arab itu belum sempurna karena dilandasi keinginan untuk dipuji dan fanatisme buta. Hingga diutuslah sang nabi akhir zaman yang bersabda, "Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Aku siapkan agenda Da'wah Fardiyahku untukmu. Dari evaluasiku, di tahun pertama, engkau sedikit sulit dijinakkan (lho!. memangnya?). Afwan ya Bi, kalau istilahnya begitu. Karena kalau kata orang-orang, aku dan engkau bagaikan manusia dari Timur dan dari Barat. Hal itu sering membuat kita ada dalam kondisi perang dingin dan engkau sering membuatku berlinang air mata. Perbedaan Timur dan Barat itu sungguh kentara, tak ubahnya dua peradaban yang saling berbenturan. Karena engkau suka berkiblat ke millah (cara hidup) dan fikrah (pemikiran) Barat. Afwan, ketika itu pemahaman fiqh da'wahku masih kurang baik, sehingga aku langsung main marah saja kalau melihatmu melakukan hal-hal yang dilarang agama. 

Tahun kedua, da'wahku mulai smooth ya. Maklum, istrimu ini baru paham fiqh da'wah. Ternyata dalam berda'wah kita harus lemah lembut dalam menyuruh dan melarang, mengerti apa yang harus dilakukan dan adil terhadap apa yang harus dilarang. Berda'wah itu harus bertahap, karena pemahaman setiap manusia berbeda-beda. Dan tentu saja, tugas kita hanyalah menyampaikan, sedangkan hidayah itu dari Allah saja. "Kamu tidak akan bisa memberi hidayah pada yang engkau cintai". Tambahan lagi, kesabaran adalah yang utama. Karena tanpanya, kita akan isti'jal (terburu-buru) inginkan hasil. Padahal Allah tidak menilai hasil, Dia menilai proses. Maafkan aku, Bi.  Aku akan mulai mencoba memahami dirimu.

Aku termangu menerima hadiah doamu. Mmm.. engkau masih ingat, tidak ya ? Di minggu pagi yang cerah, aku duduk di ruang tengah dan engkau keluar dari kamarmu, hendak mencuci motor di depan rumah. Tapi aku tertegun melihat penampilanmu. Wah, ndak salah nih, gumamku kala itu. "Abi, kok pake celana pendek, kan ndak boleh tuh".. Engkau senyum-senyum mendengar teguranku. Hehehe, iya nih kalau ketahuan sama anak rohis di kampusku, pasti aku juga dimarahi, hehehe,  jawabmu sambil tetap ngeloyor pergi ke garasi. Aku jadi mengernyitkan kening. Hmm,  sudah tahu tidak boleh, tapi kok masih dipakai juga yah (?).

Di lain waktu, engkau kerap menggodaku, "Enaak nih Pizza Hut!", ujarmu sambil mengunyah sepotong pizza yang engkau tahu aku tidak menyukainya. Aku lebih suka empek empek, atau martabak telor, daripada makanan ala infor itu. Itu kan ndak boleh, diboikot, makan darah orang Palestina lho, Bi !, jawabku. Hehehe, biarin, nyam..nyam!!, katamu. Tapi di lain waktu, ketika aku membaca Al Qur'an di keremangan malam, tiba-tiba engkau bangun dari tidurmu dan berbaik hati menyalakan lampu, menerangiku membaca kitab-Nya. Syukron!

Tahun ketiga, sudah ada dialog antara kita. Dan kalau di evaluasi, engkau hari ini sudah jauh berbeda dari 2 tahun yang lalu. Paling tidak, engkau tak lagi anti Islam, sudah rajin shalat, mulai menyadari perjuangan muslim di Palestina dan bertanya tentang Islam. "Mi, kenapa sih anak rohis di kampus itu, kecil-kecil dah pada nikah?

 Aku sedikit terkejut dengan pertanyaanmu. Oh..itu karena begini dan begitu, jawabku. Di lain waktu engkau bertanya lagi, Mi, memangnya manfaat Shalat Dhuha itu, apa? Oh. Itu karena begini dan begitu, jawabku. Engkau mengangguk-anggukkan kepala. Dan yang membuatku bersyukur adalah ketika engkau mendukung dan memberikan suaramu untuk partai Islam yang bersih dan peduli. Aku hanya bisa mengucap hamdalah. 

Dan, aku masih termangu menerima hadiah doa darimu. Sifatmu yang keras, membuat aku teringat akan Umar bin Khattab yang juga keras, tapi lembut hatinya. Mungkin seperti itulah aku mengibaratkanmu. Keras di luarnya saja, tapi sesungguhnya hatimu lembut. Buktinya, engkau menangis kala mbak kita dalam proses ijab qabul. Dan bukankah dulu Umar benci Islam? Apatah lagi engkau tidak separah jahiliyahnya Umar, yang sampai mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Sungguh aku yakin, engkau bisa berubah, sebagaimana keyakinanku dalam mentarbiyah para mad'u di kampus, karena memang fitrah manusia adalah Islam.

Hm !, dalam 3 tahun Da'wah Fardiyah, engkau belum juga menjadi ikhwan, belum "mengaji", belum berda'wah. Tetapi aku tak akan putus asa, karena engkau masku., karena aku sangat merindukan mempunyai mas yang ikhwan. Aku ingin kita sekeluarga selamat di dunia dan di akhirat. Sekali lagi, aku tetap yakin, manusia bisa berubah 

Hadiah doa darimu membuat aku ingin terus berfikir. "Mas, sekarang engkau sedang apa ya? Jangan sering pulang malam, nanti sakit. Apakah sekarang engkau sudah menikah? Sudah punya anak? Apakah.. dan apak..ah. Aduuh ! sakit. Ya Rabbi !, sungguh dahsyat sakitnya kematian kala kecelakaan itu�. Kala ruh berpisah dengan jasad. Dan Illahi Rabbi.., walau sang maut menjemput bertahun-tahun lalu, tetapi sakitnya hingga detik ini masih kurasa. Ya Allah, aku masih dapat mengingat saat ibu, ayah, mbak dan masku menangisi aku yang terbujur kaku, mengantarku ke tempat peristirahatan Ya Rabbi, kala itu langit mendung, bunga-bunga ditaburkan di atas tempatku Sungguh kehidupan di dunia seperti sehari saja., atau kurang dari itu dan sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan akhirat yang kekal. Akankah aku dapat bertemu lagi dengan keluargaku

(Merenung) Ya Rabbi, hingga kini, aku tidak tahu apakah masku sudah menjadi seorang ikhwan, yang menjadi bagian dari barisan da'wah untuk meninggikan kalimah-Mu. Apakah kami dapat bertemu dalam naungan-Mu Kurindu persaudaraan abadi, yang bukan hanya karena ikatan darah, tetapi akidah. Ibu.., ayah., mbak, mas. Aku mencintai kalian semua. Dan untukmu ,  aku mencintaimu karena Allah. Semoga kita dipertemukan kembali dalam naungan-Nya. Jazakallah Mas, atas hadiah-hadiah doamu selama ini, doa yang besarnya sebesar gunung, yang engkau kirimkan untukku setiap hari, di setiap shalat malammu. Aku mendengarnya ! []

Kisah Cinta Anak Rohis

Kisah Cinta dari Masjid Kampus

Oleh : N.N


Seorang kakek-kakek duduk di sebuah sekret rohis kampus. Sekret itu berukuran 3x3 meter. Kecil, tapi sangat nyaman. Lantainya dialasi karpet coklat. Ada lemari file, kaca besar di sampingnya. Buku-buku Islam tersusun rapi di hadapan kakek itu duduk. Jendela terbuka lebar. Terdengar kicauan dari burung yang ada di dalam sangkar.

Kerut-kerut di wajahnya sangat kentara. Rambutnya sudah memutih. Ia termenung. Kepalanya tertunduk. Ia tengah memandangi sebuah album foto. Tak jauh darinya, ada setumpuk album foto lainnya. Lama sekali ia memandangi album foto itu.

Seorang mahasiswa berbaju koko, masuk ke sekret dan sebelum duduk di sebelahnya, ia mengucap salam, sambil mengulurkan tangannya, mencium tangan kakek itu dan mencium pipi kiri dan kanan. “Wa’alaikumsalam Wr Wb,” jawab sang kakek. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Kakek itu masih asyik menatapi foto-foto tersebut. Membuka-buka halamannya. “Saya suka melihat foto-foto ini, dan saya tak kan pernah bosan melihatnya,” ujar kakek itu memecah kesunyian. Matanya terlihat sayu dan memendam kerinduan yang mendalam. Mahasiswa itu terlihat tak mengerti, tapi kemudian ia berujar, “Ya, Pak saya pernah melihat foto-foto itu, sepertinya orang-orang di dalam foto itu sangat kompak ya.” Mahasiswa itu mendekat dan ikut melihat foto-foto itu. “Lihatlah ikhwan-ikhwan ini, mereka semua sangat kompak,” kata kakek itu sambil menunjuk sebuah foto dan tiba-tiba wajah kakek itu terlihat sumringah. “Tahukah kamu,… untuk mewujudkan ikhwan-ikhwan yang kompak seperti ini, ada pengorbanan dari para senior-senior kami dahulu dan juga dari teman-teman kami sendiri,” kakek itu menjelaskan. Mahasiswa itu kemudian bertanya “Bapak sendiri yang mana?” “Saya…, yang ini… Bersama teman-teman saya dulu…,” ujar kakek itu sambil menunjuk ke sebuah foto ikhwan yang memakai ikat kepala putih dan slayer biru saat mukhayyam di gunung.

Tiba-tiba pintu sekret terbuka dan ada enam orang ikhwan berbaju koko, memasuki sekret sambil tertawa riang dan bercerita panjang lebar. Begitu melihat kakek itu, mereka segera mengucap salam, dan bersalaman.
“Acaranya baru dimulai 10 menit lagi, Pak,” ujar seorang ikhwan berbaju biru.
“Eh, teman-teman, ini tadi beliau sedang cerita… Ternyata ada foto beliau ketika masih seusia kita, lho” ujar mahasiswa tadi.
“Wah, yang bener yah…,” seru seorang dari mereka. Mereka berebutan untuk melihat album foto dan mengelilingi kakek itu. Terlihatlah foto-foto para aktivis kampus angkatan 1996. Ikhwan dan akhwatnya terlihat sangat kompak. Puluhan akhwat berjilbab rapi berdiri di belakang para ikhwan yang duduk berjongkok sambil memegang spanduk acara. Dan banyak lagi foto-foto yang serupa. Meski sudah 46 tahun yang lalu, namun foto-foto itu masih terjaga baik. Ya.., karena kakek itu menyimpannya…

Seorang mahasiswa memasuk sekret dan berkata, “Pak, acaranya sudah dimulai.” Mereka semua lalu keluar bersama-sama menuju tempat acara. Kakek itu berjalan menyusuri sepanjang koridor kampus menuju ruangan seminar. Dengan berjalan lambat-lambat, didampingi para mahasiswa. Sepanjang jalan ia disapa oleh setiap mahasiswa yang berpapasan dengannya. Meski kampus swasta, tetapi terlihat lebih mirip pesantren karena hampir semua mahasiswa dan mahasiswinya berjilbab dan mahasiswanya berbaju koko. Kakek itu hadir sebagai pembicara di sebuah seminar bertema, “Menyikapi Kemenangan Da’wah” yang disambut takbir ribuan peserta ikhwan dan akhwat di kampus itu. Kampus yang telah futuh.

Acara dibuka dengan tilawah dan diawali dengan tampilnya tim nasyid. Ketika tiba saatnya pada materi inti, sang moderator membacakan biodata pembicara. Setelah dipersilahkan untuk menyampaikan materi, kakek itu membukanya dengan basmallah. Ia sempat terdiam sesaat. Dipandanginya aula besar yang berisi ribuan mahasiswa dan mahasiswi. Matanya berkaca-kaca. Ia terkenang akan kenangan masa lalu. Pandangannya nanar.

(Ruangan itu berubah ke tahun 1996)

Di tempat yang sama. Ruangan itu lenggang.
Terdengar suara, “Nanti kita mengadakan seminarnya di ruang ini saja, karena sound systemnya di sini bagus,” ujar Bram kepada teman-temannya. Beberapa teman yang berada di dekatnya mengangguk tanda setuju.
“Tapi, apa tidak terlalu besar ya, Bram … karena pesertanya dikhawatirkan sedikit,” ujar seorang mahasiswi bernama Laras, yang rambutnya diikat ekor kuda.
“Saya pikir, tidak Laras.. Tema seminar kali ini cukup menarik, insya Allah anak-anak mahasiswa baru banyak yang datang, kok.”

Bram bersama tiga temannya berjalan bersama menuju sekret. Di sepanjang jalan menuju kampus, para mahasiswa laki-laki dan perempuan terlihat bercampur baur. Yang mahasiswinya merokok dan mahasiswanya memakai anting. Bahkan ada yang tak malu-malu berpelukan di koridor kampus.

Bram, mahasiswa semester tiga, fakultas ekonomi di sebuah universitas swasta di Jakarta. Rambutnya lurus dibelah tengah, kulitnya sawo matang, postur tubuhnya sedang, badannya tegap, dan jago bela diri Tae Kwon Do. Ia suka memakai celana bahan dan kemeja lengan panjang. Sehingga tampak sekali keikhwanannya. Suaranya yang lembut namun tegas, membuatnya disegani, sehingga ia didaulat menjadi ketua rohis untuk masa periode itu.

Krisis Regenerasi dan Optimisme Bram
Suatu hari, Bang Didit dan Bram membuat janji untuk bertemu di sekret pada pukul 10.00. Di tengah kesunyian sekret, Didit yang notabene adalah DP (Dewan Pembina) senior rohis angkatan ’94, berkata kepada Bram. “Dek, kondisi angkatan ‘96 seperti ini. Abang sedikit pesimis.” Bram tertunduk. Ia baru saja diangkat menjadi ketua dari organisasi rohis yang kualitas anggotanya, sangat jauh dari harapan, karena mereka masih belum memiliki sikap teguh pendirian dan masih sedikit jiwa berkorbannya untuk dakwah. Pun masih gemar ber-ikhktilat. Namun jauh di lubuk hatinya, Bram tetap optimis, bahwa bila Allah menghendaki, manusia pasti bisa berubah, pasti bisa….

“Di akhwat juga tidak ada, dek….” tambah Bang Didit, ingin menekankan bahwa hanya Bram yang bisa menjadi motor penggerak dalam organisasi rohis itu. Bram berfikir keras. Amanah berat di pundaknya. Iya…, memang kondisi di kampus ini sangatlah berbeda dibanding SMU-nya yang ada di daerah. Dulu di SMU, aktivis bertumpuk dan suasananya sudah sangat islami. Tapi kini, tugas yang akan diembannya sangat berat, yang sampai-sampai para DP pun, sudah di ambang pesimisme. Di lubuk hatinya, Bram memegang teguh janji Allah, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum. Ayat itu selalu menyemangati dirinya untuk tetap optimis berada di jalan ini. Karena hidayah Allah, siapa yang tahu? Teman-teman pasti bisa berubah….

Andre, Aktivis Da’wah Sekolah (ADS)
Saat tengah duduk-duduk di depan sekret rohis, Bram melihat seorang mahasiswa yang tampaknya seperti ikhwan, menuju tempat wudhu. Dan instingnya seakan memperkuat hal itu. “Assalaamu’alaikum,” kata Bram.
“Wa’alaikumsalam wr wb,” jawab pemuda berjanggut tipis dan tampan itu.
“Em…, antum Ikhwan, ya?” tembak Bram to the point.
“Saya…… JT,” jawabnya mantap.
“O…. Maaf ya, Assalaaamu’alaikum” ujar Bram malu-malu dan segera ngeloyor pergi kembali ke sekret. Saat Bram berbalik beberapa langkah, pemuda itu memanggilnya. “Eh.., akhi… tunggu, maksud saya … JT itu Jamaah Tarbiyah,” ujarnya sambil tersenyum ramah.
“Ooo…. Alhamdulillah….,” senyum Bram pun mengembang.

Mahasiswa itu bernama Andre, mahasiswa tingkat II yang ternyata ADS juga di SMU-nya. Bram sangat senang mendengar itu. Bram mengajak Andre untuk berkomitmen di jalan dakwah. Bram menjelaskan kondisi rohis kampus yang memprihatinkan. Andre mahasiswa yang cerdas, perawakannya sedang, rambutnya ikal dan kulitnya putih dengan pipi yang kemerah-merahan. Andre mengangguk, “Maka marilah kita berjanji setia untuk berjuang di jalan-Nya,” ujar Andre menyambut ajakan Bram. Bram tersenyum. Dan mereka berjanji setia untuk senantiasa di jalan Allah. Sejak itu mereka senantiasa selalu bersama dan ikatan cinta diantara mereka sangatlah kuat.

Zaid, Sang Jurnalis
Usai shalat Zuhur, sebelum jamaah bubar, Bram segera maju ke depan, mengambil mic dan memberi kultum di masjid kampus. Ia memulainya dengan basmalah dan membacakan firman Allah SWT QS. Saba’: 46-50. Dengan semangat yang membara, kata-kata yang lugas dan tegas, lidah yang lancar, ia berkata, “Kepada para pemuda yang merindukan lahirnya kejayaan, kepada umat yang tengah kebingungan di persimpangan jalan. Kepada para pewaris peradaban yang kaya raya, yang telah menggoreskan catatan membanggakan di lembar sejarah umat manusia. Kepada setiap muslim yang yakin akan masa depan dirinya sebagai pemimpin dunia dan peraih kebahagiaan di kampung akhirat… “ Para jamaah yang semula hendak bubar, demi mendengar seruan Bram yang menggetarkan jiwa itu, spontan segera menoleh ke arah Bram dan mereka kembali duduk di tempatnya dikarenakan gaya bicara Bram yang sangat menarik.

Bram melanjutkan, “Wahai pemuda! Kalian tidak lebih lemah dari generasi sebelum kalian, yang dengan perantaraan mereka Allah membuktikan kebenaran manhaj ini. Oleh karenanya, janganlah merasa resah dan jangan merasa lemah. Kita akan menempa diri, sehingga setiap kita menjadi seorang muslim sejati. Kita akan membina rumah tangga-rumah tangga kaum muslimin menuju terbangunnya rumah tangga yang islami. Setelah itu, kita akan menempa bangsa kita menjadi bangsa yang muslim, yang tertegak di dalamnya kehidupan masyarakat yang islami. Kita akan meniti langkah-langkah yang sudah pasti, dari awal hingga akhir perjalanan. Kita akan mencapai sasaran yang digariskan Allah bagi kita, bukan yang kita paksakan untuk diri kita. Allah tidak menghendaki kecuali menyempurnakan cahaya-Nya, meski orang-orang kafir tidak menyukainya,” seru Bram. “ Kita pun akan mengetahui bahwa sesungguhnya memisahkan agama dari politik itu bukan dari ajaran Islam. Pemisahan itu tidak pernah dikenal oleh kaum muslimin yang jujur dalam beragama dan paham akan ruh ajarannya. Sesungguhnya agama ini adalah agama, ibadah, dan tanah air, …..”

Andre memperhatikan para jamaah. Dan ada beberapa jamaah yang terlihat sangat antusias dengan seruan Bram. Andre mendekati seorang pemuda. Setelah mengucapkan salam, mereka berkenalan. “Saya Andre.” Pemuda itu membalas senyum Andre dan berkata,
“Saya Zaid.”
“Zaid, nama yang bagus sekali seperti sahabat yang menjadi sekretaris nabi.
“Iya, engkau benar,” jawab Zaid.
“Bagaimana menurutmu tentang orang di depan itu?” tanya Andre.
“Em.., bagus sekali dan saya tertarik untuk menuliskannya di koran saya,” jawab Zaid.
Andre mengerutkan keningnya.
“Anda jurnalis?”
“Ya, saya jurnalis di koran kampus.”
Sesaat Andre baru sadar, bahwa Zaid mengenggam pena dan membawa sebuah note book kecil di tangannya. Setelah mengobrol panjang lebar, Bram berkata,
“Emm…Kalau begitu bagaimana kalau engkau mengaji bersama-samaku.”
“Mengaji?”
“Ya, kita akan mengaji dan mengkaji lebih dalam lagi apa yang dikatakan mahasiswa itu.”
“Ya… Tentu.., “ jawab Zaid setelah berpikir beberapa saat.

Mahasiswa Baru
Ospek untuk menyambut mahasiswa baru angkatan ’97 digelar di kampus tersebut. Pakaian mereka putih dan hitam. Dengan rambut diikat pita tiga, ratusan mahasiswa baru telah berkumpul di lapangan. Suasana sangat ramai. Para aktivis dari BEM dan Himpunan berjaket almamater telah bersiap-siap. Dan para aktivis rohis tengah mempersiapkan tempat shalat untuk shalat Zuhur.

Di bawah panas terik matahari, ratusan Mahasiswa Baru duduk di lapangan dan mendengarkan instruksi dari para senior, tak jarang kata-kata kotor keluar dari mulut mereka. Bram jengah mendengarnya. Sudah mahasiswa tapi intelektualitsnya justru minus, pikirnya.

Semua mahasiswa baru, dikumpulkan di lapangan kampus. “Siapa yang tidak bawa atribut lengkap, cepat maju ke depan dalam hitungan tiga! Kalau tidak, terima sendiri akibatnya!” seru sang senior berjaket almamater biru. Ia mulai menghitung. Beberapa junior maju ke depan. Bram berjaket almamater dan memandangi para mahasiswa baru untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang mahasiswi baru, berjilbab putih. Ia seperti mengingat-ingat sesuatu…. Itu.. seperti.. seperti…. Sita! Sita sudah berjilbab…? Bram terdiam dan pikirannya melayang dengan kejadian setahun lalu.

Saat itu.. ketika ia masih kelas 3 SMU….

“Saya tidak bisa meneruskan hubungan kita, dek… Kita akhiri sampai di sini saja…..,” ujar Bram pada seorang adik kelas yang tak lain adalah kekasihnya, “Tapi.., kenapa? Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja, Bang…” jawab Sita dengan memandang lekat-lekat wajah laki-laki yang sangat dicintainya itu. Air mata Sita sudah tak terbendung lagi. “Maafkan saya, dek… tetapi saya bukanlah Bram yang dulu lagi. Saya sudah memikirkan ini masak-masak, saya ingin berubah…”

Sita dan Bram duduk berdua di pinggir lapangan basket SMU. Mereka saling terdiam beberapa saat dan memandangi pintu gerbang SMU mereka yang sudah mulai sepi. Langit berwarna merah. Rambut lurus Bram tertiup angin yang sepoi-sepoi. Azan maghrib sebentar lagi berkumandang. “Apa yang membuat abang berubah? Padahal dua hari lalu, abang katakan bahwa kita akan selalu bersama, apakah engkau sudah melupakan kata-kata abang sendiri…,” Suara Sita terdengar parau.

Sesungguhnya jauh di lubuk hati Bram, sangatlah berat melepas Sita. Tapi.. ., ada yang jauh lebih ia cintai dari wanita yang berambut sebahu itu… Mengatakan perpisahan inipun sangat sulit baginya. Tapi.. tapi.. ia harus bisa karena ada yang lebih ia harapkan dari Sita, yaitu… ampunan dan rahmat Allah. Ia tak dapat memungkiri bahwa hatinya gelisah luar biasa bila berdekatan dengan Sita, seakan dosa yang terus menggunung tinggi.

Azan Maghrib berkumandang. Bram tersigap, ia bangkit dari duduknya dan berkata, “Sudah azan, saya mau shalat. Shalat yuk.., dek…,” ajak Bram. Sita memandang Bram dengan tatapan penuh keheranan…dan bertanya-tanya dalam hati.. sejak kapan Bram shalat? Bukankah ia sendiri yang sering mengatakan tak suka dengan anak-anak rohis…… “Abang saja yang shalat, Sita nanti aja,” jawab Sita enggan. Bram dan Sita saling berpandangan, lama sekali. Seakan banyak isi hati yang terucapkan lewat tatapan mata mereka. Hati Bram bergemuruh. Qomat berkumandang dari masjid sekolah. Bram menundukkan pandangannya, dan berkata, “Saya shalat…” Ia membawa tas ranselnya dan menuju masjid sekolahnya. Sita tertunduk dan air mata mengalir di pipinya yang kemerah-merahan.

Usai shalat Maghrib, Bram termenung sesaat… Hatinya sedih luar biasa, ia tahu, pasti Sita saat ini sedang menangis. Apakah ia harus menemui Sita lagi dan menenangkannya, seperti yang selama ini ia lakukan. ‘”Aku di sini untukmu.” Kata –kata itulah yang sering ia ucapkan bila Sita bersedih. Tetapi kini.. apakah ia harus menemuinya dan mengatakannya lagi.. Ah.., tidak.. Aku sudah bertekad, aku harus berubah! Harus!. Ya Allah.., istiqomahkanlah aku di jalan-Mu. Bram memanjatkan doa dengan hati bersungguh-sungguh. Tak terasa ia menitikan air mata. Ikatan yang sudah terjalin sejak mereka SMP, harus pupus di tengah jalan. Biarlah… biarlah .. kita menangis saat ini Sita, daripada kita menangis di akhirat nanti. Bram lebih memilih jalan untuk menjauhi apa yang namanya pacaran. Dan ia berkomitmen untuk selalu berada di jalan para nabi ini….

Bram menyenandungkan syair nasyid Izzatul Islam
Selamat tinggal wahai dunia duka dan
selamat datang wahai dunia iman
Burung yang patah sayapnya tak akan mati karena lukanya
Wahai hatiku yang sedih perangainya
Sungguh kesedihan itu teah meninggalkan diriku
Kan terbang aku ke dunia cinta
Karena Aku muslim yang membumbung dengan iman
Gelarku adalah muslim dan itu cukup bagiku
Dibawah naungan agama aku hidup
Untuk menebus keislamanku yang nyaris sirna


**

“Assalaamu’alaikum, Bram… Nanti tempat wudhunya gimana?” tanya teman rohisnya, Andre. Kehadiran Andre membuyarkan lamunan Bram, “Oh.. eh.. Wa’alaikumsalam, itu sudah disiapkan, jadi nanti yang mahasiswanya wudhu di dekat gedung K,” jawab Bram mantap. Andre mengangguk dan meninggalkan Bram usai mendapat jawaban itu. Bram beristighfar dan segera kembali mempersiapkan atribut shalat, seperti spanduknya dan lain-lain. Bram bergumam, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum

Bram duduk di masjid usai shalat Zuhur. Ia dan teman-temannya bersiap-siap menyambut mahasiswa baru. Ia memandangi orang-orang yang shalat. Dan dari kejauhan ia melihat seorang mahasiswa baru yang tengah duduk. Bram menghampirinya dan mengucapkan salam. Mahasiswa baru berambut plontos itu menjawab salam sambil tersenyum ramah. “Sudah shalat?” tanya Bram padanya. “Sudah, Bang… lagi nunggu temen, dia belum selesai,” jawabnya sedikit malu-malu. Bram lalu berkenalan lebih jauh dengan mahasiswa yang ternyata benama Andi itu. Bram berkata, “Nanti kapan-kapan kamu main ke sekret rohis aja.” “Ke sekret? Ngapain Bang,” tanya Andi heran. “Ya maen aja, belum penah ke sekret rohis, kan?” Bram kembali mengajak. Dan kali ini Andi mengiyakan dan berjanji akan mengunjungi sekret rohis. Andi berpamitan setelah temannya usai shalat. Mereka berlari menuju kelas.

Bram Bersama Teman-Teman
Selama kepengurusannya, Bram melakukan gebrakan-gebrakan da’wah. Dan ia memprioritaskan da’wah di atas segalanya. Totalitas Perjuangan. Ia persembahkan untuk meninggikan kalimatullah. Bram, Andre dan Zaid bekerjasama untuk berda’wah kepada para mahasiswa baru, pun kepada teman-teman mereka sendiri.

Bram mencarikan ustadz agar mereka dapat mengkaji Islam bersama. Ini akan menjadi menthoring pertama dalam organisasi ini. Sejak itu, mereka bertiga mengadakan pertemuan mingguan bersama seorang ustadz.

Saat kuliah, Bram, Andre dan Zaid ada di kelas yang bersebelahan. Mereka dapat dengan mudah berkoordinasi bila ada teman-teman Da’wah Fardiyah. Semuanya mereka rencanakan dengan baik. Hingga akhirnya terekrutlah beberapa orang mahasiswa dan mahasiswi, untuk semakin mengokohkan barisan da’wah.

Perpustakaan Masjid
Bram memasuki masjid dan melihat banyak sekali buku-buku Islam yang tak terawat. “Buku-buku adalah sumber ilmu,” ujar Bram ketika mengajak Andre untuk mendata buku-buku tersebut. Jumlah buku Islam itu ada 500 buku. Mereka berdua mencatat nama buku, pengarangnya, dan penerbitnya. Lalu membuat nomor-nomor buku, kemudian menempelkannya di setiap buku. Selama sebulan lebih Bram dan Andre melakukan itu. Bram bersyukur karena ada Andre yang bersedia membantunya. “Kapan nih selesai bukunya, kok ngga’ selesai-selesai,” ujar seorang anggota rohis saat memasuki sekret. Ia hanya membaca beberapa buku, dan kemudian meletakkannya. “Makanya, bantuin dong, biar cepet selesai,” ujar Andre sedikit kesal. Karena Andre tahu, Bram yang paling banyak berperan dalam mengurusi buku-buku itu, dan ia tidak rela bila orang hanya bicara saja tanpa membantu. Bram hanya terdiam mendengar itu. Berapa banyak orang yang sanggup bicara, tetapi sedikit yang mengerjakannya. Dan berapa banyak orang yang mau mengerjakannya, tetapi mau serius dan berkorban untuk melakukannya.

Setelah satu bulan, pendataan buku-buku itu pun selesai. Bram dan Andre meletakkannya di perpustakaan masjid. Mereka segera membuat kartu perpustakaan, sehingga para mahasiswa dapat meminjamnya. Dan dapat beredarlah fikrah kita.

Pengorbanan
Bram, Andre dan Zaid terkejut sesaat, tetapi kemudian memberikan selamat kepada Laras, karena ia baru saja berjilbab. Laras tersipu-sipu, dan dari lubuk hatinya, Laras yakin bahwa inilah jalan yang lurus, jalan yang benar, jalan yang Dia ridhoi. Dengan jilbab ini, Laras berjanji untuk senantiasa di jalan ini…

Sekret rohis itu dikunjungi oleh mahasiswa dan mahasiswi. Di sekret akhwat, sangatlah ramai oleh canda tawa para mahasiswi, sampai-sampai suara mereka terdengar di sekret ikhwan. Andre kerap kali mengetuk jendela akhwat, agar tidak terlalu berisik. Bila sudah demikian, para akhwat dan mahasiswi yang ada di dalam hanya tersenyum tertahan. Andre hanya geleng-geleng kepala.

Dan di sekret ikhwan pun tak jauh berbeda. Bahkan mereka bermain bola di dalam sekret. Andre hanya geleng-geleng kepala (lagi). Tetapi Bram memang tidak mencegah hal itu dan membiarkannya karena anggota yang baru bergabung tidak bisa dipaksa langsung berubah total.

Di dalam sekret itu, diadakan jadwal kultum harian. Setiap orang mendapat giliran. Laras membuat jadwal di akhwat, dan Andre membuat jadwal di ikhwan. Tilawah dan kajian, juga menjad agenda mingguan.

Kala maghrib menjelang, ketika tak ada seorangpun di lingkungan sekret. Bram masuk ke sekretnya. Dan ia membereskan sekret yang berantakan. Hampir setiap hari ia melakukan itu, karena pengkondisian sekret bagi Bram sangat penting. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Bagaimana mungkin hidayah Allah akan turun bila tempat ini berantakan…, gumam Bram. Untuk saat ini, ia belum bisa meminta teman-temannya untuk melakukan tugas ini, karena banyak yang menolak. Dan Bram memaklumi hal ini. Ia menyapu lantai, merapihkan buku-buku, membuang sampah-sampah, dan memasang mading ataupun menempel tausiah-tausiah di sekret.

Menghadapi Kristenisasi
Sita bergabung dengan rohis kampus. Namun Sita yang sekarang, bukanlah Sita yang dulu, karena kini ia telah berjilbab rapi dan ia sudah membuang jauh-jauh kenangannya bersama Bram. ‘Ya Allah, aku ada di sini karena Engkau. Semoga Engkau luruskan niat-niat kami di jalan-Mu,” doa Sita di setiap shalat malamnya.

“Aduh, gimana yah, temen gue ada yang mau keluar dari Islam,” kata Anita, teman sekelas Sita, suatu hari. “Hah? yang bener?” seru Sita. Sewaktu di SMU ia juga pernah menemui kristenisasi di SMU-nya. “Iya, tapi Sita jangan bilang siapa-siapa ya, rahasia,” ujar Anita yang celana jinsnya robek-robek di bagian lututnya. Anita berkata itu dengan mimik serius dan rokok mengepul dari mulutnya. Sita hanya mengangguk-angguk.

Pakai jilbab, mau murtad? Tubuh Sita seakan limbung mendengar itu. Haruskah ia kehilangan lagi saudara muslim lagi. Sewaktu di SMU ia pernah menghadapi hal yang sama, pemurtadan dan saat itu teman SMU-nya murtad karena diiming-imingi harta. Sita segera membuka-buka kembali buku kristologinya. Ia membenahi jilbab putihnya. Argumen-argumen apa yang harus ia sampaikan kepada seseorang yang mau murtad. Ia mencatat semuanya dalam selembar kertas dan esok paginya, ia sudah siap dengan argumennya.

Namun Sita tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia menceritakan hal itu kepada orang yang ia percaya, yang notabene pasti tak mengenal Anita. Hal ini terdengar di telinga Bram, ketua rohis, bahwa ada kristenisasi di kampus.

Saat rapat rohis, Bram berkata, “Kita mendapat laporan dari atas, bahwa di kampus kita terjadi kristenisasi.” Sita tertunduk dalam mendengarnya. “Sebaiknya hal seperti ini tidak disembunyikan, karena bila sampai terjadi pemurtadan, dapat mencoreng wajah da’wah kita di kampus ini,” tambah Bram dengan tegas. Bram masih menunggu ikhwah yang sebenarnya mengetahui hal ini. Sitapun akhirnya angkat bicara, “Ya, sebaiknya kita mencari kristolog untuk membantu akhwat ini, karena kabarnya, dia mendapat ancaman juga dari kekasihnya yang Kristen, akh…” Hm.., Bram akhirnya tahu siapa orangnya.
“Ya, sebaiknya begitu…,” jawab Bram.

Para ikhwah mempersiapkan agenda bersama agar mahasiswi tersebut tidak murtad. Lima akhwat, diantaranya Sita dan Laras, melakukan aksi detektif. Mereka ingin mengetahui dahulu wajah sang mahasiswi yang berkudung gaul tersebut. Kejar-kejaran dari belakang. Bersembunyi kala ia menoleh. Sesekali para akhwat tersenyum bersama. Setelah mahasiswi itu berhasil diidentifikasikan, akhirnya Sita menjadi duta untuk melakukan dialog dengannya.

Bram terus memantau perkembangannya dari hari ke hari. Dan dari Anita, Sita mengetahui bahwa mahasiswi tersebut membatalkan niatnya untuk berpindah agama akibat bujukan pemuda Kristen tersebut, karena agama adalah yang paling utama. Allahu Akbar! Misi detektif akhwat selesai.

Riska, Namanya
Pagi hari. Di ruang kelas. Para mahasiswa tengah menunggu datangnya dosen Pengantar Akuntansi 2. Bram segera masuk ruang kelas. Dan duduk di baris kedua. Ia membuka buku Akuntansinya dan melihat-lihat lembaran buku merah tersebut. Ia tak memperhatikan bahwa sedari tadi ada mahasiswi yang mengamati dirinya. Bram menoleh ke arah kanannya dan melihat mahasiswi manis, bercelana jins, baju jungkis dan berambut keriting tengah menatapnya. Bram segera melemparkan senyumnya. Mahasiswi itu membalas senyumnya. “Kamu anak rohis ya?” tanya mahasiswi itu. “Iya, saya Bram,” jawab Bram memperkenalkan diri. “Riska, “katanya balas memperkenalkan diri. “Saya dari dulu pengen ikut rohis nih, tapi bisa ngga’ ya?” ujar Riska. “O… tentu aja bisa. Kamu maen aja ke sekret rohis,” jawab Bram. Tiba-tiba dosen masuk dan menghentikan obrolan Bram dan Riska. Kuliah berlangsung selama 2 jam.

Usai kuliah, Bram mengajak Riska untuk berkunjung ke sekret rohis. Bram memperkenalkan Riska kepada beberapa akhwat rohis. Di dalam sekret, Riska melihat-lihat sekeliling sekret yang isinya begitu banyak buku-buku Islam.
“Sejak kapan kamu pakai jilbab?” tanya Riska pada Sita.
“Emm…, kelas 3 SMU, Mbak.”
“Wah, baru pakai ya?”
“Iya”
“Dulu dapat halangan ngga’ dari orangtua?” tanya Riska lagi.
“Iya, dulu mintanya susah sekali. Tapi dengan berusaha, akhirnya orang tua mengizinkan,” jawab Sita.
Riska mengangguk-anggukkan kepala. Mereka kemudian membicarakan banyak hal, mulai dari keluarga sampai seputar wanita. Riska mengakui bahwa wawasan Islam Sita sangat baik.

Pers Kampus
Zaid, semenjak bergabung dengan rohis, ia menggunakan kemampuan menulisnya untuk meninggikan kalimatullah. Tulisannya menghiasi media cetak kampus. Ia mampu menciptakan tulisan-tulisan yang universal, yang dapat diterima oleh kalangan dosen maupun mahasiswa. Sehingga Al Haq dapat tersampaikan. Dan ia kerap kali meliput kegiatan-kegiatan rohis dan memasukkannya ke koran kampus. Dengan ini, perlahan tapi pasti, terciptalah opini publik yang Islami lingkungan kampus tersebut.

Tidak hanya itu, kemampuannya itu ia teruskan kepada teman-teman dan junior-juniornya. Misinya dalam jangka panjang adalah membentuk pers kampus. Bram pun turut men-support keberadaan pers Islam ini. Hingga terbentuklah satu divisi baru, yaitu Divisi Jurnalis. Yang bertugas mem-blow up kegiatan-kegiatan rohis dan menggalang opini publik.

Bram Membangkitkan Semangat Teman-Teman
Sekret ikhwan dan akhwat terpisah. Letaknya ada di belakang masjid kampus itu. Para aktivis ini tengah mempersiapkan acara sebagai follow up dari penyambutan mahasiswa baru. Mereka melakukan rapat. Hanya ada 8 orang, yaitu Zaid, Bram, Andre, Andi, Riska, Laras, Sita dan Riska. Tak jarang mereka harus pulang malam untuk melakukan rapat-rapat. Bahkan kuliah bagi mereka adalah nomor dua. Yang utama adalah da’wah. Namun meskipun demikian, mereka semua tetap berprestasi dalam kuliahnya, dengan IPK minimal 3. Karena mereka memiliki motto, “Ikhwah sejati harus ber-IPK minimal 3!”

Bram selalu menjadi motor setiap event-event keislaman di kampus. Ia senantiasa memotivasi teman-temannya untuk tetap istiqomah di jalan ini. Dan di dalam sebuah organisisi, bukannya tanpa masalah, tetapi Bram dan teman-temannya berusaha memiimalisirnya, karena ukhuwah yang utama.

**
Roy Bergabung dengan Rohis
Di kosnya, Bram memandang langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Langit terang oleh cahaya bulan purnama… Lama sekali ia menatap langit… Terbayang di matanya… akhlak para mahasiswa di kampusnya yang merosot. Semua itu berkelebat dahsyat di pikirannya.

Saat itulah, teman satu kosnya yang sedang menonton TV, menekan channel berita Metro TV, “Korban kembali jatuh di Palestina, bom bunuh diri dilakukan oleh Wafa Idris, wanita Palestina yang membawa bom. Tiga orang tentara Israel tewas dan puluhan lainnya luka-luka.” Bram segera berlari menuju TV mendengar berita itu. ketika melihat TV…, Innalillah… sampai seorang wanita yang harus maju untuk berperang, kata Bram. Mata Bram berkaca-kaca menyaksikan suasana di Palestina. Terlihat, Ambulance menolong korban luka-luka orang-orag Israel. “Eh…, kenapa loe..?” tanya Roy, teman satu kosnya. “Roy …, Kamu tahu…., Palestina itu tempat apa?” tanya Bram pada Roy yang tengah menghisap sepuntung rokok. “Palestina kan di Arab sana,” jawabnya cuek. Bram menggeleng, “Di Palestina ada Masjid Al Aqsha, itu adalah kiblat pertama kita dan sekarang diinjak-injak oleh zionis Israel, sudah sejak tahun 1948, sejak perjanjian Balfour,” ujar Bram dengan serius. Roy mengangguk-angguk, terbengong-bengong…”Ooh… begitchu yah..”

Bram terbangun dari tidurnya. Ia termenung sejenak. Dilihatnya, pukul 02.00 dini hari. Ia mengambil air wudhu dan shalat malam. Dalam shalat malamnya, ia membaca surat Al Anfal, lama sekali… Roy yang kamarnya ada di sebelah Bram, tengah sibuk membuat program web site. Di depan internetnya ia meng-up load postnuke dari situs. Jari-jarinya bergerak cepat. Sesekali ia membuka situs porno, dan terkekeh sendiri. Rokok di tangan kirinya dan ada Majalah porno pula di tangan kanannya. Roy keluar dari kamarnya saat mendengar suara orang menangis terisak-isak. Roy keluar dari kamarnya dengan kaos oblong dan rambut yang berdiri dan acak-acakan.

Ia melihat ke dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit. Bram sedang shalat. Kepala Roy tertunduk… Dan ia masuk kembali ke kamarnya. Di dalam kamarnya, ia memandangi majalah pornonya, dan dilemparnya majalah itu ke lantai. Ditutupnya semua situs yang ia browse sedari tadi. Ia mengambil sebuah buku yang sudah berdebu, Al Qur’an. Roy teringat kata-kata Bram…”Di Palestina ad Masjid Al Aqsha, itu tempat qiblat pertama kita…” terngiang-ngiang kata-kata itu. Dan terbayang pula senyum manis Andre saat ia sering mengajaknya untuk shalat ke masjid dan biasanya Roy menolaknya mentah-mentah, tetapi Bram senantiasa bersabar mengajaknya. Dibersihkannya Al Qur’an itu dari debu dengan tangannya. Dibukanya pada surat mana saja… Dan yang terbuka olehnya adalah Surat Ar Rahman “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Roy membacanya.. indah sekali ayat ini….

Bram bangun di pagi hari. Dan bersiap-siap untuk shalat Subuh di masjid. Bram terkejut ketika Roy mengikutinya dari belakang… Dengan malu-malu, Roy berkata, ‘‘Kenapa? Gue mau ke masjid juga, tidak boleh?”
“Eh.. boleh.. tentu saja boleh…,: Bram cepat-cepat membuang keterkejutannya itu dan mereka melangkah bersama menuju masjid di dekat kosan mereka.

Usai shalat, Bram membuka buku kecil berwarna hijau. “Itu apa? Gue liat loe sering bawa buku itu,” tanya Roy. ‘‘Ini… Ini namanya Al Ma’tsurat, zikirnya Rasulullah SAW yang dibaca setiap pagi dan petang,” jelas Bram.
“Gitu yah? Boleh ngga’ gue baca,” tanya Roy lagi.
“Boleh, kita baca bareng-bareng aja ya. Nih…” ujar Bram menyerahkan buku itu.
“Loh, terus loe baca pake apa?”
“Insya Allah saya sudah hafal…,” kata Bram.
“Oooo….” Roy mengangguk-angguk. Mereka membacanya bersama-sama hingga matahari menampakkan cahayanya.

Di dalam kamarnya, Roy memandangi ruangannya yang berantakan seperti kapal pecah. Ia terdiam sesaat dan dengan segera membersihkan dan membereskan kamarnya. Sapu, lap pel, ada di tangannya. Ia mencopot semua poster-poster band kesayangannya. Buku-buku porno ia kumpulkan. Seketika, kamarnya bersih dan mengkilat hingga ke kaca-kaca jendela. Ia keluar dari kamar dan diluar ia menyalakan api… dilemparnya semua buku porno itu ke dalam api. Roy tersenyum penuh kemenangan.

Roy menyisir rapi rambutnya yang lurus dan dibelah tengah. Ia melepas anting yang setia ad di telinga kananya. Ia merapikan janggutnya dan memakai wangi-wangian. Penampilannya menjadi lebih rapi.


SEMINAR AKBAR, KEMENANGAN
Andre yang notabene adalah Ketua Departemen Syi’ar, menjadi Ketua pula dalam acara seminar yang akan digelar. Ia membentuk struktur panitia. Acara ini tergolong besar, karena akan melibatkan dosen dan mahasiswa. Target pencapaian adalah 500 peserta. Itu berarti peserta akan memenuhi ruang auditorium di kampus tersebut.

Zaid, yang ahli dalam membuat tulisan, membuat sebuah artikel yang sangat bagus akan pentingnya seminar ini. Ia memasukkannya dalam koran kampus yang memang independen, sehingga ia tak mendapatkan halangan yang berarti.

Roy pun memanfaatkan keahliannya dalam dunia maya dengan menjaring massa melalui dunia cyber. Ia menggunakan email, mailis, situs, Yahoo Messenger dan Friendster untuk menyebarkan berita ini. Dan tulisan-tulisan Zaid ia muat dalam setiap pesannya dalam internet.

Bram, yang memiliki karisma dalam dirinya, mengajak para dosen untuk berpartisipasi dalam acara seminar ini. Ia menggunakan cara-cara yang ahsan dan menawan hati.

Sita, Laras dan Riska menjalankan amanahnya mengajak para muslimah untuk hadir dalam seminar. Mereka kerap mempublikasikannya dalam kajian keputrian yang setiap minggunya dihadiri oleh tak kurang dari 50 muslimah, di setiap Jum’at.

Dalam mempersiapkan kegiatan ini, tak jarang, Andre dan teman-temannya harus pulang malam untuk mengadakan rapat-rapat. Dan di siang hari, mereka aktif mencari sponsor demi terselenggaranya kegiatan. Lelah. Inilah yang dirasakan Andre dan jajaran kepanitiaanya.

“Kamu kenapa?” Bram seakan menangkap kegalauan hati saudaranya yang tengah termenung di sekret rohis. Ia memperhatikan bahwa Andre sedikit melemah semangat dakwahnya. Andre hanya terdiam. “Ingat…, disana.. di Pelestina.., saudara-saudara kita tengah berjuang. Apa yang kita lakukan di sini, belumlah seberapa dibandingkan mereka,” ujar Bram sambil menatap dalam kepada Andre. Andre merasa malu, karena Bram mengetahui kegalauan hatinya. Dan ucapan Bram itu seakan menjadi air sejuk di tengah kegersangan hatinya.

Hari H pun akhirnya datang. Andre melakukan briefing kepada panitia, saat pagi hari. Tiket telah terjual habis, bahkan masih ada yang ingin memesan tiket. Dan diperkirakan ruangan akan melebihi kapasitas. “Semoga Allah selalu meluruskan niat-niat kita saat menapaki jalannya. Hadir di sini semata-mata karena Allah,” ujar Andre untuk memotivasi panitia. Seluruh sie melaporkan tugasnya. Cek dan ricek.

Ticketing di depan ruangan seminar telah bersiap-siap. Semua anggota rohis memakai jaket almamater. Mereka bak tentara-tentara Allah yang bersiap-siap di posnya masing-masing. Acara ini mendapat sambutan yang sangat baik dari para dosen, pun mahasiswa. Para mahasiswa berbondong-bondong tertarik untuk mengikuti program menthoring yang diselenggarakan oleh rohis.

Kesolidan Antar Departemen
Bram dan Andre telah menyiapkan 20 menthor. Menthoring diadakan untuk mendidik seorang muslim agar akidahnya bersih, akhlaknya solid, ibadahnya benar, pikirannya intelek, tubuhnya kuat, mampu memanfaatkan waktu, dan bermanfaat bagi orang lain. Dari seminar itu, paling tidak, terbentuklah 20 kelompok menthoring, yang masing-masing kelompok, ada 8 orang. Itu berarti ada 160 orang yang terekrut melalui seminar tersebut.

Karena kesolidan Departemen Pengembangan Sumber Daya Muslim (DPSDM) dan Departemen Syi’ar, maka proses rekruitmen dan pembinaan berjalan lancar. Bram, Roy, Zaid dan Andre hanya bisa mengucap hamdalah akan kemenangan ini.

Berbondong-Bondong Berjilbab
Sita tengah sibuk mendata barang-barang di sekret. Pintu sekret terbuka dan… Sita melihat rok panjang berwarna hitam. Ia mendongak ke atas dan terlihatlah wajah Riska yang sedang tersenyum malu-malu dengan jilbab putihnya. Untuk sesaat Sita terperangah, dan kemudian cepat-cepat tersadar dan memberikan selamat kepadanya. Sita memeluk Riska erat sekali. Alhamdulillah… ujarnya.

Semenjak itu, bagaikan kartu domino. Mahasiswi yang lainpun berjilbab. Selama sebulan, sudah ada 20 orang yang berjilbab. Bahkan sampai muncul istilah ditengah-tengah mereka bahwa ada “Taubat massal.”

Suasana sekret akhwat kian ramai dihiasi canda tawa para akhwat. Tak jarang mereka melakukan aksi smack down, antar mereka. Mereka semua bersama-sama membantu gerak da’wah. Dan Andre senantiasa mengetuk jendela akhwat agar tidak terlalu berisik. Hi..hi..hi… para akhwat bukannya diam, tetapi semakin ramai. Andre hanya geleng-geleng kepala. Dan Bram tersenyum melihat sikap Andre.

Persiapan Dauroh
Rohis mengadakan dauroh (pelatihan) yang merupakan alur terakhir dari organisasi tersebut. Bram, Andre, Zaid dan Roy melakukan survey di daerah Gunung Bunder. Mereka berempat memakai ikat kepala putih dan membawa ransel besar. Persiapan untuk naik gunung.

Mereka telah mempersiapkan dauroh ini selama satu bulan lebih. Waktu, tenaga, pikiran dan juga uang, mereka korbankan demi terselenggaranya kegiatan dauroh tersebut. Jalur-jalur yang akan dilalui peserta, mereka beri tanda. Namun tak terasa, malam telah menjelang. Dan sesuatu yang aneh terjadi, mereka tak bisa menemukan jalan pulang. Padahal seharusnya jalan yang dilalui tidaklah terlalu sulit. Mereka kembali menyusuri jalan. Hawa dingin dan malam yang pekat. Hanya berbekal dua senter.

Pukul 22.00. Mereka kemudian sadar bahwa sedari tadi hanya berputar-putar di satu tempat. Bram berkata, “Sepertinya ini sudah bukan dunia manusia lagi, sebaiknya kita membaca ayat kursi.” Andre, Roy dan Zaid mengiyakan. Dan sepanjang perjalanan, mereka membaca ayat kursi. Dengan doa, zikir dan tawakal, mereka akhirnya dapat turun gunung dengan selamat. Allahu Akbar!

Dauroh ini diikuti oleh 160 orang peserta. Mukhayyam selama 3 hari 2 malam. Tenda-tenda dibangun sendiri oleh peserta. Ikhwan dan akhwat berlomba mendirikan tenda masing-masing. Dauroh ini diisi dengan out bond, ceramah dan aneka games. Mendaki gunung. Dan yel-yel kelompok yang semakin menyemarakkan suasana.

Usai kegiatan, mereka semua berfoto bersama dengan pakaian penuh lumpur. Wajah puluhan ikhwan terlihat sangat gembira, dengan ikat kepala putih dan slayer biru. Para ikhwan berfoto sendiri dan berbaris rapi. Dan puluhan akhwatpun berfoto sendiri di tempat lainnya. Jilbab-jilbab mereka yang rapi, berkibar tertiup angin gunung. Mereka semua terlihat sangat kompak. Andre mengabadikan event itu dengan kameranya.

Bram Menikah
Bram bercerita pada Andre bahwa ia akan menggenapkan setengah diennya dan Insya Allah dalam waktu dekat. Andre turut bahagia mendengar penuturan saudaranya itu. Namun Bram sendiri belum tahu siapa orangnya, karena ia percaya sepenuhnya kepada pilihan ustadznya. Mendengar itu, Andre percaya bahwa Allah akan memberi yang terbaik untuk Bram.

Seminggu kemudian Bram mendapat sebuah amplop dari ustadznya. Dengan hati berdebar, namun tetap tenang, ia membuka biodata sang akhwat. Bram termangu membaca nama calonnya itu… Sita Anggraini… Ya Rabbi… Sungguh tak akan lari gunung di kejar, gumam Bram.
Di tempat lain…, Sita juga menerima amplop dari murabbiyahnya dengan perasaan tenang. Ketika ia membuka dan membaca nama calonnya…. Bram Adhiyaksa…, Sita setengah berbisik menyebut nama itu. Ya Rabbi…
Proses ta’aruf (perkenalan) Bram dan Sita berlangsung singkat. Bram datang meminang ke rumah Sita. Pernikahan berlangsung sederhana dan menggunakan hijab yang berupa tanaman-tanaman. Puluhan aktivis rohis datang pada acara yang sangat bersejarah dalam kehidupan manusia itu. Lagu-lagu nasyid diputar saat itu. Bram yang gemar dengan nasyid Izzis dan Shoutul Harakah terpaksa harus menggantinya dengan nasyid yang slow, karena tak mungkin di hari perhikahannya ia memutar nasyid genderang perang.
Keluarga Pejuang
“Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (QS. 9:24).

Suatu hari Bram merasa gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada Sita, "Dek…, kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam dakwah. Apa pantas sesudah dakwah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan dakwah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya, tapi kita pun cinta Allah". Bram pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari.

Aksi 12 Mei
Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan di persimpangan jalan
Kepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan,
Sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta


Rasulullah SAW bersabda, “Allah akan menaungi pemuda yang berani mengatakan yang haq di depan penguasa yang zalim.” Berlandaskan hadits ini, aksi-aksi mahasiswa marak di berbagai daerah di tanah air.

Dan Aksi 12 Mei. Aktivis rohis yang bergabung, berjumlah dua ratus orang lebih. Bram ikut memimpin gerakan mahasiswa untuk merobohkan rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Bram dan aktivis rohis lainnya, mendesain sebuah aksi turun ke jalan, untuk kali yang pertama. Namun tak disangka, aparat bersikap repsesif. Mahasiswa berlari ke dalam kampus menyelamatkan diri dari tembakan aparat. Bram yang berada di depan terkena tembakan peluru di perutnya. Seorang Satgas dari Senat berhasil menariknya ke dalam kampus sebelum sempat dipukuli oleh aparat. Dan yang terjadi selanjutnya mirip dengan perjuangan intifadah rakyat Palestina. Dimana mahasiswa berusaha mempertahankan diri dengan melemparkan batu, botol aqua dan apa saja yang bisa dipungut di jalan kepada aparat yang bersenjata api.

Balasan yang 'sangat amat baik sekali' dari aparat keamanan. Tiap kali terdengar letusan senapan yang keras dan menggetarkan kaca-kaca di Gedung M, massa mahasiswa spontan berteriak 'Allahu Akbar'. Mahasiswa yang tidak kuat menahan emosi berteriak-teriak istighfar
dan mengutuk perbuatan aparat bermoral binatang. Karena bantuan alat-alat medis yang kurang, korban dibawa ke Gedung I.

Inna Lillahi Wa Ina Lillahi Roji'un, mahasiwa yang sedang berbaring ini sudah tidak bernyawa. “Tidak ada nafasnya!” seru seorang rekan ketika tidak merasakan aliran nafas dari hidungnya. Tidak kuat menahan emosi yang sedang terjadi, beberapa mahasiswa beristighfar menyebut nama Allah Swt, dan lainnya menyerukan untuk mengadakan pembalasan, sebagian lagi berusaha menahan emosi rekannya. "Tidak ada gunanya dilawan", "Jangan ada korban lagi", semuanya mundur, rekan kita sudah ada yang meninggal, Mundur semua!” jerit beberapa rekan mahasiwa. Mahasiswa-mahasiwa yang berada di barisan depan terus melempari petugas dan berteriak-teriak histeris. Kabar kematian rekan mahasiswa tampaknya malah membakar emosi mahasiswa barisan depan tersebut.

Bram Meninggal
Bram dalam kondisi kritis. Darah mengalir deras. Teman-teman segera membawanya ke rumah sakit. “Bram…. Bram….,” panggil Andre dengan wajah sangat cemas. Bram melihat wajah Andre, semula jelas… namun pandangannya kabur dan semuanya menjadi gelap.

Sudah satu bulan Bram ada di rumah sakit. Banyak aktivis yang menjenguknya. Dan pada minggu ke enam, Bram sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Namun sejak penembakan itu, Bram tak bisa lagi berjalan seperti biasa. Karena pukulan keras di kepalanya dari aparat, membuatnya sering pusing. Pun tembakan di perutnya, meninggalkan luka yang membekas dan terkadang sangat sakit ia rasakan. Namun meskipun demikian, Bram masih mengontrol jalannya aktivitas da’wah di kampus melalui HPnya. Terkadang para ikhwah bertanya tentang apa yang harus mereka lakukan dalam da’wah. Ataupun sekedar ber-sms untuk bertanya tentang Islam. Dan hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi Andre.

Suatu hari, ada rapat mendesak yang membutuhkan kehadiran Bram. Walau sang isteri sudah berusaha mencegahnya, namun Bram tetap bersikeras. Ia dijemput Andre. Dan mereka bersama-sama menuju tempat syuro. Syuro itu berlangsung satu hari penuh.

Pukul 02.00, Bram tiba di depan rumah. Ternyata sang isteri tercinta telah menantinya. Bram duduk di kursi tamu, melepas kepenatan. Sita berjongkok di hadapan Bram dan membukakan kaos kakinya. “Wah…, Mama .. baik sekali,” ujar Bram dengan nada lembut. Sita terdiam. Ia menyunggingkan senyum. Entah mengapa, hari ini perasaan Sita tidak enak. Ia ingin selau berada di dekat suaminya. “Air panasnya sudah siap, Bang…,” Sita mengambilkan handuk. Bram terduduk di kursi sambil memegang agenda syuro. Ia segera membersihkan diri malam itu.

Saat subuh menjelang. Suhu badan Bram sangat tinggi, ia menggigau. Sita panik, tetapi ia tetap berusaha berfikir jernih. Ia segera menghubungi abang kandungnya yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Mereka lantas bersama-sama membawa Bram pergi ke rumah sakit.

Semua ikhwah menjenguknya. Sudah seminggu Bram ada di rumah sakit. Sita senantiasa membacakan Al Qur’an di samping Bram. Sakitnya kian memburuk.

**

Suatu malam…. Bram memanggil Sita… dan memberi isyarat agar Sita mendekat. Sita segera mendekatkan telinganya di dekat wajah Bram. Ia berwasiat, “Dek… jaga diri baik-baik. Dirikan shalat. Jaga anak kita nanti, didik ia menjadi mujahid di jalan Allah,” ujar Bram. Sita yang kandungannya telah berusia delapan bulan, sudah tak terbendung lagi air matanya. Ia menangis terisak-isak. Demi mendengar isakan tangis Sita, Andre terbangun dari tidurnya dan mendekati Bram. Beberapa ikhwan yang tengah menunggu di luar kamar pasien, juga terbangun. Bram menghadapi sakaratul maut. Sita dan Andre membimbing Bram agar mengucapkan “Laa illaha ilallah…”, namun lidah Bram yang setiap harinya memang tak lepas dari zikir, dapat dengan lancar mengucapkannya. “Innalilahi wa inna ilaihi raji’un….” Andre mengucapkannya dengan nada tertahan, ketika tubuh Bram sudah lemas dan terbujur kaku.

Semua ikhwan yang menyaksikan hal itu, terdiam. Kepala mereka tertunduk…

Sepeninggal Bram, semua yang dirintisnya membuahkan hasil. Demi mendengar kisah kegigihannya dalam menegakkan Islam, telah membangkitkan militansi puluhan aktivis lainnya. Dan dari puluhan aktivis ini, lahirlah mujahid-mujahid baru. Regenerasi terus berlanjut. Mewariskan nilai-nilai keislaman yang telah Bram tanamkan di dalam diri teman-temannya. Pun bagi Andre, Bram adalah sosok teladan yang selau memberi motivasi kepada dirinya. intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum.

(Tahun 2040)

Penutup
Kakek itu masih menatap tajam para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di hadapannya. Ia berkata, “Wahai pemuda! Kalian tidak lebih lemah dari generasi sebelum kalian, yang dengan perantaraan mereka Allah membuktikan kebenaran manhaj ini. Oleh karenanya, janganlah merasa resah dan jangan merasa lemah. Kita akan menempa diri, sehingga setiap kita menjadi seorang muslim sejati. Allah tidak menghendaki kecuali menyempurnakan cahaya-Nya, meski orang-orang kafir tidak menyukainya,” ujarnya.

Kakek itu mengucapkan panjang lebar tentang arti kemenangan da’wah. Dan tibalah saat sesi tanya jawab. Sang moderator berkata, “Ya, telah kita dengarkan tausiah-tausiah dari syeikh kita, Syeikh Andre. Seperti kita ketahui bersama, beliau juga pernah kuliah di kampus ini dan menjadi salah satu pelopor bangkitnya Islam di kampus kita tercinta. Maka jangan sia-siakan kesempatan ini untuk bertanya.” Beberapa orang dengan serentak, berebutan dan mengangkat tangan untuk bertanya.

Usai acara, Andre bersiap-siap shalat berjamaah di masjid kampus bersama-sama dengan para mahasiswa. Ia memandangi perpustakaan yang dulu pernah ia dan Bram susun. Terlintas kembali kenangan itu, saat Bram berkata kepadanya, “Buku- buku adalah sumber ilmu.”

Andre kemudian menjadi imam pada shalat Zuhur itu. Ia membaca surat Muhammad… dengan khusyuk… dan ketika sampai pada ayat intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum., Andre terisak… Ia mengenal betul bahwa ayat inilah yang menjadi gerak juang saudaranya, Bram. Usai mengucap salam, Andre terdiam dan melihat ada Bram, Roy dan Zaid di hadapannya. Bram tersenyum kepadanya dan Andre membalas senyumnya. Andre menatap ke langit-langit masjid dan ia melihat makhluk-makhluk yang tak pernah ia lihat sebelumnya, bukan jin dan bukan pula manusia. Dan beberapa saat kemudian, ia tersungkur di depan mimbar masjid.

Pak Andre!…. Seru jamaah shalat. Mereka berhamburan dan membopong tubuh Andre. Dan mendudukkannya. “Innalillahi wa Inna ilaihi raji’un…,” seru seorang dari mereka ketika tak ada lagi hembusan nafas dari Andre… “Pak Andre belum meninggal, kita bawa beliau ke rumah sakit saja,” ujar yang lainnya.

Mereka segera membawa Andre ke rumah sakit. Dengan raut wajah berduka, dokter mengatakan hal yang sama, “Mohon maaf, Pak Andre… sudah tiada.” Saat itulah semua jamaah tertunduk dan menitikkan air mata, menangisi kepergian sang mujahid.

***

Ribuan jamaah ikhwan berduyun-duyun mengantar kepergian syeikh mereka ke tempat peristirahatan. Langit mendung seakan turut menangisi kepergian mujahid-mujahid Allah di muka bumi. Bram, Zaid, Roy dan Andre.. Makam mereka terletak berdampingan. Mereka bertemu karena Allah, saling mencintai karena Allah. Rasulullah SAW bersabda, "Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para Nabi dan syuhada’, tetapi para Nabi dan Syuhada’ iri pada mereka. "Ketika ditanya oleh para sahabat, Rosulullah saw menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah"(HR. Tirmidzi). Mereka telah mengukir sejarah perjuangan yang indah. Sesungguhnya dakwah ini akan terus berlanjut hingga hari kiamat.

Saat semua pengantar Andre telah pulang, ada beberapa pemuda gagah yang masih tertegun di samping makam-makam itu. Salah seorang dari pemuda berkata, “Ayah, kami akan meneruskan perjuanganmu, hingga tak ada lagi fitnah dan agama ini hanya milik Allah…,” ujarnya mantap. (Ayat_Al_akrash)

Senin, 23 Februari 2009

Mendidik Anak Cinta Al Qur'an

  Didik Anak Mencintai Al-Qur'an   

  Usia anak pra sekolah, diyakini banyak pihak sebagai masa emas,gold age. Masa paling baik untuk menampung dan menghafalkan sesuatu. Pada masa ini anak menyerap segala informasi yang ada. Ibarat spons menyerap semua air , tak peduli apakah itu air bersih atau air kotor. Daya hafal dan  penalarannya berbanding terbalik. Daya hafalnya akan semakin berkurang sesuai dengan pertumbuhan usianya. Sebaliknya penalarannya semakin bertambah.

 

Orang tua muslim yang cerdas akan memanfaatkan masa ini dengan sebaik-baiknya.Dapat memilih sesuatu yang menjadi prioritas untuk dihafal oleh anak. Sering kita dengar sebagian orang tua yang memaksa anaknya untuk menghafal sesuatu yang kurang berguna. Misalnya nama-nama pahlawan, jenis-jenis musik, nama-nama artis. Sebenarnya semuanya bisa berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan masa. Pada satu sisi, kita mungkin bangga jika anak bisa menyebutkan nama-nama tersebut dengan tangkas. Tetapi sadarkah kita bahwa itu sama saja kita memfungsikan memori anak dengan "sampah" yang sama sekali tidak diperlukan bagi kehidupannya mendatang.

 

Orang tua perlu memperhatikan perbedaan kemampuan individual anak. Daya hafal tiap anak berbeda-beda. Tak perlu panik bila kita dapati anak kita tak sehebat anak tetangga. Tetapi perlu usaha dari orang tua dengan cara yang baik dan penuh kasih sayang. Dalam dunia pendidikan, teori conditioning mengatakan, seorang anak akan belajar dengan mudah bila dalam situasi yang menyenangkan, dan itu akan lebih berkesan dalam hidupnya. Segala permasalahan anak perlu disikapi dengan bijaksana.

 

Pada  kenyataannya hafalan adalah suatu beban yang harus dipikul. Karena itu sebaik-baik beban adalah yang memang diperlukan sebagai bekal dimasa yang akan datang. Maka orang tua perlu seleksi terhadap materi yang dihafal anak baik dari segi kualitas  maupun kuantitasnya. Jangan sampai berlebihan sehingga melebihi kapasitas. Jika beban kelewat berat, fungsi kreatif dan emosi pikiran anak yang sesungguhnya sangat penting, tidak dapat berfungsi secara baik. Selain itu pada masa ini kepribadian anak sedang berkembang. Kepribadian sebagai bekal baginya dalam bersosialisasi dengan lingkungannya.

 

Hal-hal yang perlu dihafalkan dan sangat baik bagi anak kita misalnya ayat-ayat Al-Quran, doa-doa dan hadits. Ayat-ayat Al-Quran perlu dihafal sebagai bekal dalam hidupnya, tidak hanya untuk masa yang akan datang tetapi juga untuk kehidupan yang dilalui. Bukankah Allah menjanjikan ketenangan hati, lapang jiwa dan ketajaman akal bagi orang yang mencintai Al-Quran? Pada usia ini jiwa, hati dan fikiran mereka masih bersih.

 

Dalam sejarah para salafus sholeh telah berhasil mendidik anaknya untuk mencintai Al-Quran dan menghafalnya. Tanpa ada kesepakatan, bila ada yang belajar hadits atau ilmu yang lain seorang anak harus menghafal Al-Quran. Menurut Ibnu Khaldun, pengajaran orang tua terhadap anak tentang Al-Quran adalah syiar dalam agama Islam. Dan semua bidang ilmu boleh dikuasai tetapi harus dekat dulu dengan Al-Quran. Ibnu Sina juga berpendapat bila anak dipersiapkan untuk cinta pada Al-Quran dan bisa menguasai huruf hijaiyah maka ia akan mudah menguasai ilmu agama yang lain.

 

Rasulullah Salallahu alaihiwasalam bersabda, jika mampu mendidik anak dekat pada Al-Quran maka kita akan hidup di bawah naungan arsy Allah. Didiklah anakmu dalam tiga hal:

1. Mencintai nabimu

2. Mencintai agama

3. Membaca Al-Quran

Karena sesungguhnya orang yang mengamalkan Al-Quran akan berada di bawah naungan arsy Allah bersama para nabi yang suci. Pada saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

 

Doa sangat penting dihafalkan, karena ia merupakan wujud komunikasi seorang hamba kepada Tuhannya. Ada suatu pengakuan sadar bahwa dirinya adalah hamba, sementara yang diserunya adalah Tuhan, tempat ia menggantungkan hidup. Murtadha Mutahhari menjelaskan bahwa doa adalah suatu sebab atas takdir yang telah diputuskan. Doa merupakan salah satu sebab di semesta ini, yang memiliki pengaruh penting atas nasib manusia seperti dikemukakan sebuah hadits bahwa doa menolak qadha walaupun telah selesai diputuskan. Allah menegaskan dalam Al-Quran menegaskan, jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat dan memenuhi doa orang yang memohon kepadaKu.

 

Alangkah bijaksana bila orang tua tidak hanya memerintah anak untuk menghafal atau membaca tetapi sekaligus memberikan pengertian tentang keutamaan-keutamaannya. Dan hal itu sangat dibutuhkan baginya. Jika hal ini mampu kita lakukan beban menghafal itu tidak lagi terasa berat tetapi sebaliknya seperti sesuatu yang menmang disenanginya. Memberikan sebuah pengertian tentang sesuatu secara tepat, akan membuat anak-anak kita 'menjadi lapar' dan beban hafalan itu berubah menjadi makanan yang diperlukan.

 

Semoga bermanfaat.

Mara'ji: "Mencerdaskan Anak" - Suharsono

Minggu, 22 Februari 2009

Jangan Tangisi

Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu

Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Pffhh.sungguh semua itu tlah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.

Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa.

Hidup ini ibarat belantara.Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.

Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.

Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan.Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu)supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS Al-Hadid ;22-23)

Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh.Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita,bukanya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah. harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan pakasa.Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkanya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya dengan marah karena niat kita yang terkotori.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah :

".. Boleh jadi kalian membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian.Allah Maha mengetahui kalian tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu didunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak!

Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!