Jumat, 13 Februari 2009

SMS Buat Ukhty

SMS Hati Teruntuk Ukhti

SMS HATI TERUNTUK UKHTI

Mungkin kejadian ini bukan dirasakan oleh Aku seorang. Pasalnya, banyak teman-temanku juga mengeluhkan masalah ini. Sering sekali mereka curhat tentang kekesalan mereka terhadap SMS-SMS yang bisa merusak kekebalan hati ini. Bisa dibilang SMS ini menimbulkan penyakit hati.

Salah satu dari teman halaqah-ku misalnya pernah bercerita, hampir setiap tengah malam dia selalu mendapatkan SMS yang berisi ajakkan untuk sholat lail dari seorang cowok yang notabene tergolong aktivis dakwah di kampusnya. Ada juga versi SMS lainnya yang berisikan tentang tausiah atau sekedar basa-basi saja.

Bukannya mau ber-su'udzan. Tapi setelah dianalisis kembali SMS itu justru bukan berlandaskan lillahi ta'ala alias hanya sekedar cari perhatian. Entah apa sebenarnya motivasi mereka sesungguhnya.
Pernah di suatu pertemuan Aku dan teman yang lainnya dikejutkan oleh artikel sebuah majalah remaja islami yang pada waktu itu membahas habis perihal 'Ketika Ikhwah Sedang Jatuh Cinta'. Memang sangat menarik sekali ketika kita melihat title dan komposisi dari artikel tersebut. Tetapi disini, yang membuat kami terkejut sekaligus jengkel adalah mengapa justru para akhwat yang disebut-sebut ke-GR-an kalau menerima SMS dari para ikhwan padahal semua itu juga disebabkan ulah para ikhwan yang tidak bertanggung jawab.

Sepulang dari pertemuan tersebut sempat terlintas dibenakku untuk menulis sebuah karangan non-fiktif yang bebentuk research terhadap ulah para ikhwan tersebut. Hitung-hitung biar bisa mengekspresikan kekesalanku terhadap pandangan tersebut yang cenderung lebih memojokkan kami para akhwat khususnya. Bagi kami ini jelas-jelas tidaklah adil.

Segala hal yang berbau strategi meliputi kerangka berpikir atau outline-nya sudah kupersiapkan sedikit demi sedikit. Sepertinya Alloh SWT mempunyai kehendak yang lain. Ternyata sampai saat ini buah pemikiranku itu belum kutuangkan sedikit pun lewat tinta. Ya…planning tinggalah planning. Tetapi kenyataannya memang susah untuk ngelaksanain misi rahasiaku itu. Sebenarnya hambatan untuk menulis itu bukan karena keterbatasan fasilitas atau rasa malas tapi karena amanah akademis maupun halaqah yang lebih harus diprioritaskan. Disamping itu dalam misi rahasiaku itu diperlukan data yang bisa dibilang tergolong high risk untuk didapat. Coz misi rahasia ini memerlukan bukan sekedar data biasa yang bisa diteliti dalam bentuk kuisioner atau dengan wawancara.

Tapi siapa yang menyangka dibalik kekesalanku terhadap SMS hati (biasa kusebut) aku menemukan sebuah ibroh yang mungkin bisa menjadi sebuah cerminan ketika para muslimah hendak ber-tabaruj.

Kejadian ini berawal ketika aku menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halamanku, Jakarta. SMS yang bermula dari sebuah misscall nomer yang tidak kukenal. Disitu kukira teman sekampusku yang hendak menghubungiku. Entah mau berkonsultasi tentang masalah dikampus atau yang lain.
Dalam SMS-ku kutulis keingintahuanku terhadap siapa pemilik nomer tersebut. Lalu nomer tersebut merespon dengan perkataan bahwa dia meminta maaf karena telah mengganggu waktuku. Pada saat itu, aku sama sekali tidak berpikir negatif sama sekali. Dari SMS-SMS yang dikirimnya aku menangkap kalau si pengirim misterius itu adalah adik angkatanku. Maaf saja, kalau aku sebut si pengirim itu misterius karena dia tidak mau memberikan identitasnya dan dari mana dia mendapatkan nomerku.

Uugh…curang!!! Pintaku dalam hati. Menurut pengakuannya, dia sama sekali belum pernah bejumpa denganku sebelumnya. Dan yang lebih surprise lagi dia mengetahui namaku dan kegiatan ekstrakurikuler yang kuikuti. Ternyata si pengirim misterius mempunyai niatan untuk ber-hijrah dijalan Alloh. Kebanyakan isi SMS-nya berisikan konsultasi bagaimana berproses yang benar untuk berada di jalan yang kaffah dan di ridhai oleh Alloh SWT. Adapun SMS-SMS konsultasi yang dia kirimkan, yaitu masalah tentang bagaimana pergaulan antara ikhwan dan akhwat yang syar'i dan masalah manajemen hati.

Suatu ketika, ada satu pertanyaannya yang cukup mengagetkan, yaitu ketika ia bertanya, apakah para aktivis dakwah kemungkinan pernah mengalami penyakit hati? Menurutku ini merupakan pertanyaan yang kritis dan harus dijawab dengan jujur. Aku katakan pada waktu itu juga kalau aktivis dakwah itu bukanlah malaikat melainkan manusia biasa yang mempunyai banyak kekurangan dan sering melakukan ke-khilafan.

Setelah itu dia juga bercerita kalau dia baru saja memutuskan pacarnya dengan alasan takut dengan dosa. Kemudian dia bertanya kembali, apakah tindakannya benar karena sudah memutuskan pacarnya. Dengan lugas aku menjawab pacaran memang banyak sisi kelemahannya dibandingkan sisi kelebihannya dan banyak merugikan kedua belah pihak.
Pada awalnya sih, aku tidak merasa curiga pada si pengirim SMS misterius tersebut. Terus terang dari awal aku memang merasakan ketidakadilan diantara aku dan si pengirim SMS misterius itu. Dengan alasan yang cukup jelas, dia tahu namaku dan tahu bagaimana aku di kampus. Lagipula aku menyadari bahwa perananku disini adalah sebagai akhwat yang seharusnya mengerti akan batas atau koridor-koridor pergaulan dalam tata cara yang islami. Alhamdulillah… dari dasar lubuk hati yang terdalam berkata kalau ini bukanlah ajang untuk berkomunikasi yang sehat apalagi si pengirim adalah seorang cowok yang berniat untuk terus berproses mencari kebenaran.

Akhirnya, aku pun mulai mencari celah agar si pengirim bisa mengerti akan maksudku untuk tidak mengirimkan SMS-nya secara terus menerus lagi kepadaku.

Finally, aku punya gagasan yang insya Alloh bisa menghentikannya untuk mengirimkan SMS-nya kepadaku lagi. Dalam balasan SMS-ku, aku membuat alasan kalau jawaban konsultasiku untuk dia tidaklah jelas kalau harus dibahas lewat SMS di handphone karena pasti ada kata-kata yang terputus atau hilang. Oleh karena itu, aku usul untuk menjawab semua pertanyaannya itu via email. Dan alhamdulillah ternyata dia merespon dengan baik dan bersedia memberikan alamat email-nya kepadaku.

Masa tenggang waktu yang aku janjikan untuk mengirimkan email kepada si pengirim misterius itu berlalu sudah karena terus terang aku masih kesulitan untuk menuangkan kata-kataku kedalam tulisan yang nantinya akan kukirim kepada si pengirim misterius itu.

Alhamdulillah…Alloh memberikan keberanian dan memupuk rasa percaya diriku untuk melaksanakannya. Hmmm…selama ini ternyata aku memang takut salah mengungkapkan isi hati yang kumaksud padahal itu menyuarakan sebuah kebenaran. Dengan alasan aku tidak mau akibat dari kata-kataku nanti orang jadi salah persepsi tentang citra akhwat sebagai da'iah.

Dengan diliputi rasa bersalah, sedih nggak tahu harus berkata apalagi akhirnya aku mengirimkan SMS dengan kalimat yang waktu itu baru saja aku dapatkan dari salah seorang teman. Yang diambilnya dari salah satu surat di dalam Al-Qur'an. SMS tersebut intinya menyindir si pengirim misterius itu. Buat apa dia mencari kebenaran kalau selama ini hanya dilandasi dengan hawa dan nafsu. Aku tidak tahu apakah itu akan membuat ia mengerti nantinya.

Didalam email-ku untuknya, kujelaskan maksudku kenapa aku mengalihkan perbincangan dari sistem SMS ke sistem internet via email.

Lewat Penjelasan yang sangat hati-hati dan diupayakan agar mengena di hatinya bahwa dari awal perbuatannya adalah sebuah kekeliruan. Walaupun begitu Aku sangat salut akan semangatnya untuk mencari sebuah kebenaran yang hakiki dan dia berhak mendapatkannya dari siapa saja, tidak memandang gender. Tetapi ada yang perlu diperhatikan kalau kita hanya manusia yang sering sekali khilaf. Kapan saja bisa berbuat kesalahan dan apapun yang terjadi kita tetap harus kembali lagi kepada kuasa Alloh karena Beliaulah yang mempunyai pedoman yang esa yaitu Al- Qur'an. Mengingat si pengirim mempunyai niatan untuk menjadi ikhwan wanna be. Selain itu aku menyarankan agar dia lebih memfokuskan hati dan niatannya hanya berdasarkan Illah fillah. Selain itu Aku juga mencarikan solusi terbaik untuknya agar tetap terus berproses dijalan yang di ridhoi Alloh SWT.

Ternyata tidak kuduga sama sekali, pasca aku mengirimkan email kepada si pengirim SMS misterius itu, tidak sekalipun dia mengirimkan SMS kepadaku lagi. Beberapa hari setelah peristiwa SMS misterius itu, aku kembali dikejutkan oleh sebuah balasan email yang ternyata dari seseorang yang bernama Rafli. Yang belakangan kusadari kalau itu adalah balasan email dari si pengirim misterius itu. Kucermati isi email tersebut :
"assalamualaikum wr.wb terima kasih sebelumnya sudah kirim email ke saya. Mohon maaf kalau kemarin saya sudah ganggu antum, insya Allah apa yang sudah antum tuliskan dalam email tersebut sangat bermanfaat bagi saya. Mudah-mudahan saya bisa berproses lebih baik lagi amin. Sekali lagi memang saya tidak bermaksud apa-apa, mungkin ini kelemahan saya sebagai seorang yang akan terus berproses. Jadi saya harap antum tidak salah sangka terhadap saya. Dan saya sangat bersyukur, ternyata apa yang antum sampaikan benar semuanya. Saran antum tidak ada yang salah, justru inilah yang mencerminkan kepribadian seorang akhwat sejati. Memang tidak selayaknya seorang ikhwan dan akhwat membuka pintu-pintu syaitan meskipun dari hal yang sekecil-kecilnya. Selamat ... antum semoga bisa istiqamah selalu….".

Belum kutuntaskan membaca email dari si pengirim misterius itu. Entah kenapa ada terbesit perasaan kesal, jengkel, dan malu. Dari dasar lubuk hatiku berkata, iseng banget sih kayak nggak ada kerjaan aja. Maunya apa sih nih orang ? pada saat itu juga aku merasa seperti dipermainkan. Dengan rasa penasaran dan diambang keemosian, kembali kulanjutkan bacaanku yang terputus tadi.

"…Maaf juga , ini saya lakukan karena memang selama ini saya kurang percaya dengan penampilan seorang akhwat, kadang ketika dalam situasi formal terkesan sangat alim, tetapi dilain waktu saya pernah menjumpai seorang akhwat yang bahkan terkesan berlebihan dibanding yang awam. Tapi ternyata dugaan saya salah, dari email antum saya simpulkan ternyata masih banyak akhwat yang tidak seburuk saya kira. Benarkan? Ok, mungkin itu dulu, dan maaf kalau bahasa saya agak kacau dan membingungkan maksudnya.Ok, keep istiqamah. wassalamualaikum wr. wb "

Allahu Akbar !!! Serentak, gemuruh di dalam hati ini. Setelah membaca kalimat-kalimat terakhir itu hati ini bagaikan tersiram oleh tinta hitam yang pekat. Baru saja aku berpikiran, berprasangka dan membuat sebuah judgement terhadap para ikhwan yang ingin membuka aib kami, para akhwat. Belakangan aku tersadar, siapakah yang patut dipersalahkan didalam kejadian ini? Jawabnya, bukan para ikhwan tentunya. Dan perkataan artikel itu juga tidak sepenuhnya salah.

Hal ini membuatku teringat kepada fenomena-fenomena yang pernah aku lihat dengan jelas dan ini sungguh benar-benar terjadi pada kita kalangan akhwat. Sudahkah kita berkaca dan bertanya pada diri kita sendiri terutama hatimu. Tentu saja suara hatimu tidak akan pernah membohongi dirimu. Hanya saja di setiap kita ada yang melipat hatinya sehingga hati itu tidak dapat berbisik dengan indah. Dan tidakkah engkau menyadari eksistensi kita sebagai seorang da'iah yaitu wanita-wanita yang membawa kebenaran hakiki dan selalu menjaga kemaluannya. Oleh karena itu, renungkanlah wahai sahabat….

Jadikanlah dirimu bak bidadari di syurga, makhluk yang cantik wajahnya dan bagus akhlaknya. Mereka bukanlah makhluk sombong dengan kecantikannya. Tidak pernah berselingkuh dengan makhluk lain. Mereka tidak memanfaatkan kecantikannya untuk perbuatan nista.

* Dictionary
Akhwat = cewek berjilbab, aktivis, daiyah; Ikhwan = cowok, aktivis, dai; Halaqoh = kelompok kajian kecil; Antum = kamu, anda, engkau; Ikhwah/ukhti = saudara (perempuan)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar